Apa itu kenyataan? Ketika mata pedang musuh terhunus mengancammu, dan hidupmu ada di ujung tanduk, kau akan tahu apa itu kenyataan. Jika tidak, hidupmu hanyalah kesia-siaan. –Suzume no Kumo, 1599.

Uang semester nunggak, uang harian minus, dan bayar kontrakan diburu pemilik kost. Sedang tugas dari dosen menumpuk yang telah menemui batas akhir. Jika tidak rampung, mengikuti ujian tengah atau akhir semester, terpaksa mengucapkan “selamat tinggal”. Belum urusan cinta yang menguras perasaan dan membuat hampa atau berbunga-bunga. Biasanya, para mahasiswa demo di jalan, di depan gedung pemerintahan, atau di depan muka pemangku kebijakan. Kali ini, situasi akan dibalik. Mereka giliran didemo satu orang. Seseorang yang datang  tanpa jenama dan bukan siapa-siapa, tidak memekikkan suara bawah tanah dengan teknik growl atau scream. Suaranya lebih dalam dari itu! Diawali dengan satu kalimat tanya, “Di mana kakimu berdiri?”.

Dengan tenaga yang berasal dari energi sendiri atau masih disangga punggung orang tua. Cukup satu pertanyaan yang selanjutnya diberi pernyataan bahwa kuasa jari hari ini, lebih hebat ketimbang banyak bicara. Meskipun dibantu dengan toa atau sound system. Mereka akan ditantang, berani menjadi pelaku revolusi atau enggan. Apalagi jika bukan menjadi seorang revolusioner industri 4.0. Sebab seorang Jack Ma, sang Penguasa Ali Baba mesti lahir dari rahim Ibu Pertiwi. Pertanyaannya, kaliankah Jack Ma itu?

Jika belajar dari perjalanan hidup seorang pendiri dan Chairman Eksekutif Alibaba Group yang berkebangsaan Tionghoa, adalah soal kemauan tinggi dalam mengubah masa depan. Meskipun lahir dari keluarga dengan perekonomian lemah, tidak menyurutkan niatnya untuk rakus belajar. Titik balik perubahan diawali saat menjadi pemandu wisata di wilayah Danau Hangzhou, 160 kilometer dari Shanghai. Pikirannya terbuka karena sering berdiskusi dengan wisatawan asing. Ia membuka celah pikirannya yang tertutup menjadi terbuka, tidak seperti teman-teman seusianya saat itu. Lalu di mana revolusi ekonomi yang digagas seorang Jack Ma? Ia membeli komputer dan mengotak-atik internet untuk menjual produk lokal ke luar negeri melalui dunia maya. Setahap demi setahap Jack Ma merintis perusahaan Alibaba, sebuah perusahaan ecommerce (toko online) raksasa.

Tidak banyak orang yang memiliki telepon genggam pada tahun 2000-an. Penulis baru lulus sekolah menengah atas sekitar tahun 2002, setahun menganggur, dan melanjutkan kuliah tahun 2004. Cara berkomunikasi antarteman yang berbeda wilayah masih dengan cara janjian saat bertemu. “Besok, kita latihan di studio musik, pukul 10.00 WIB,” sesuai kesepakatan pertemuan, semua hadir di studio. Beberapa teman telah memiliki telepon genggam untuk berkomunikasi, tapi terbatas, masih dapat dihitung dengan jari. Penulis memiliki telepon genggam sekitar tahun 2006, itu pun hasil pemberian seorang saudara. Pada tahun itu, hampir semua teman memiliki telepon genggam dengan beragam jenama.

Berbeda dengan kondisi teknologi informasi hari ini, semua orang di belahan dunia hampir dapat terhubung. Meskipun berada di pelosok, jaringan dibangun hampir merata di negeri ini. Artinya, berkirim surat cetak, tidak lagi menjadi primadona. Sebab berbicara langsung dengan bertatap muka saja, sekarang bukan hal yang sulit. Tinggal, klik!

Jika lapar di tengah malam, dapat menghubungi gosend untuk mengantar makanan sesuai selera. Membeli barang, tinggal pilih warna, ukuran, dan jenis yang disukai. Akhir-akhir ini, dunia benar-benar dalam genggaman tangan, dikendalikan jari-jemari dengan kode huruf, angka, atau jenama.

Jika para mahasiswa hanya diam dan tidak produktif dalam berkreativitas, penulis kira sebuah kesia-siaan. Percuma dikuliahkan! Barangkali lebih baik menggagas beragam karya yang dapat membantu orang tua dalam membiayai perkuliahan. Mulailah demo karya yang dapat membungkam siapa saja tanpa menyela. Era yang serba tidak diduga-duga semacam sekarang, memang harus melahirkan beragam ide yang tidak biasa juga. Kuasai teknologi untuk kemajuan, diri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.

Pertanyaan terakhir, apakah para mahasiswa yang digadang-gadang sebagai generasi harapan dapat bertahan? Mengingat perubahan dan persaingan yang semakin tidak terlihat dari mana arah mata angin yang mengguncang ekonomi sebuah negara. Apakah akan terus-menerus terjebak dalam pusaran konflik usang yang tidak kunjung memberi manfaat untuk kemajuan? Lebih baik mengasah diri dengan memperbanyak sudut pandang melalui bacaan berkualitas dan mempraktikkannya dalam kenyataan. Bangkit para mahasiswa generasi bangsa!

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.