“Suatu cairan masuk ke dalam tubuh, tetapi kita tidak tahu dari mana asal usulnya,” ungkap Budi Kurniawan, seorang sutradara “Aroma of Heaven”. Film yang memakan waktu hampir lima tahun tersebut diputar dalam acara “Galunggung Aero Camp” (16 – 17 September, 2017).

Perbincangan di atas panggung yang dirancang sebuah bar di tengah-tengahnya itu, membahas tentang karya multiliterasi “Sampurasun”, audiovisual dari tiga sudut pandang anak-anak muda Tasikmalaya. Sebuah prolog dalam bentuk audiovisual tersebut pada kenyataannya mulai menembus nasional dan internasional. Tentu saja tidak berakhir pada karya yang berdurasi tiga menit saja, sebab sebuah karya dan gerakan tidak diakhiri tanda ‘titik’.

Sesuai rencana komunitas-komunitas kreatif, jawaban karya multiliterasi tersebut dilanjutkan pada sebuah garapan kolaborasi lain. Ajakan berbagai komunitas yang semakin luas dalam garapan film musikal dengan latar yang masih sama, sebuah kota kecil bernama Tasikmalaya.

Dalam kesempatan diskusi yang dipandu Miya Alexa saat itu, film Tatalu juga diputar di hadapan para pemburu kopi. Menikmati aroma minuman para penjaga malam di pinggang Galunggung dengan langit cerah dan embusan kabut yang mulai turun. Suasana yang mempersembahkan panorama landai Tasikmalaya yang terlihat dari kaki Galunggung semacam memandangi celah-celah surga.

Kopi bagi sebagian orang adalah semacam rindu gelap pada terang. Minuman yang sering ditanyakan oleh tuan rumah kepada tamu yang berkunjung dengan niat silaturahmi, urusan bisnis, bertemu kawan atau sekadar teman percakapan di beranda senja.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.