Kedai yang digagas anak-anak musik di Jalan Cipedes semacam menunggu peruntungan siang itu. Mereka tetap berusaha buka melayani beberapa pelanggan setia. Para pembeli menghampiri, tapi kemudian pergi lagi dengan secangkir kopi. Sebuah kedai berdiri di paviliun bekas bangunan Cipedes Fried Chicken.

Beberapa anak muda mencoba mengais rezeki dengan membuka kedai kopi kecil-kecilan dengan jenama “Nawnaw Aliansi”. Dua kucing milik salah seorang di antara mereka telah menunggu untuk diberi makan. Kedua pasang kucing itu memang kerap menanti kebaikan mereka. Suasana pada hari Selasa siang di penghujung bulan kemerdekaan, semacam badan meriang. Terkadang terasa dingin juga hangat, semacam cuaca yang tidak dapat ditebak. Tidak jauh dengan wajah langit yang muram, tapi tidak hujan. Bisa pula lampu yang melempem, tapi tidak redup. Meja dan kursi yang sepi, satu per satu tidak lagi mati suri. Pengunjung dan pelanggan kedai kopi mulai berdatangan, satu jam kemudian.

Suara distorsi gitar yang dimainkan seorang anak muda terdengar tipis dari amplifier di samping Bar Brewing. Seorang pecandu kopi datang tiba-tiba yang tanpa kabar dan tidak dapat ditebak kehadirannya. Sosok yang tidak asing juga misterius yang kerap hadir di antara atmosfer gerakan anak-anak muda dalam tiga tahun terakhir ini. Ia memantik pembicaraan soal bedah buku antologi cerpen “Gelanggang Kuda” karya Mufidz At-thoriq. Sesuai rencana, buku itu akan diangkat dalam agenda “Jamah Karya” yang menghadirkan para perempuan sebagai penjamahnya. Sehubungan sosok-sosok perempuan penjamah karya Mufidz tengah menyelesaikan studi di luar kota, topik pembicaraan pun mengalami jeda. Suasana senyap kembali merampas percakapan hangat. Semua orang fokus pada gawai, laptop, dan beberapa anak muda Tasik Help Foundation tengah menyiapkan acara di dalam ruang CFC.

Topik menarik dari meja kecil menautkan percakapan seorang perawi, Mamet (Vokalis Tigerwork), Prabug (Vokalis Supercharger), dan  Cesar Akbar (Gitaris Supercharger) dan Lupy (Bass dwiband yang disebutkan sebelumnya) yang sesekali melayani pemesan kopi. Mereka berkumpul sekadar mengisi ketidaksadaran diri dengan waktu untuk duduk satu meja di sebuah shelter kopi, Nawnaw Aliansi. Ketetapan takdir telah menarik satu sama lain untuk sekadar bertemu yang tanpa janjian sebelumnya untuk membicarakan hal positif. Mereka memang memiliki passion masing-masing, kesamaan dari mereka, yaitu menyukai musik meski dengan genre berbeda.

Topik yang dibicarakan sebenarnya random, hal yang wajar karena mereka memang berlatar lintas disiplin. Prabug sempat menyambit soal lirik menjadi kenyataan, yang ketika sebuah band ingin dikerubungi perempuan, ternyata terwujud. Ia sempat juga merenungkan kata ‘Nowhere’ dalam album “Goin’ Nowhere” bandnya. Vokalis Supercharger itu mempertegas, “Tidak di/ke mana-mana, berarti tidak maju dan berkembang,” gerutunya dengan nada sumbang.

Kata-kata memang bukan sekadar teks, tapi sebuah ungkapan yang ke luar dari kontraksi pikiran dengan perasaan. Semesta menangkap seluruh rangkaian ungkapan seseorang yang terejawantahkan dalam kenyataan. Tentu saja atas kehendak Tuhan, setelah kehendak seseorang bekerja dengan sadar atau tidak. Selain itu, makhluk setia yang rinci mencatat setiap ujaran manusia melapor kepada Tuhan lalu menjadi pertimbanganNya.

Diskusi semakin berapi-api hingga mengupas beberapa kisah nabi yang dikaitkan dengan peristiwa akhir-akhir ini. Begitulah sebuah percakapan yang ketika semua orang ditarik alam, memetakan penempatan jiwa, emosi, dan kejujuran. Terutama dalam pembentukan janin karya. Topik tersebut menjadi bagian dari pengantar ujung diskusi. Pernyataan tentang karya dapat tercipta karena kepekaan indera kemudian memicu diskusi semakin sengit di meja kecil itu. Kalimat pertama dalam ujung diskusi, semacam bara api pada suluh yang hampir mati, ditiup kembali. Menyalakan pembahasan satu kelompok band berpengaruh di atas bumi “Slipknot”.

Berdasarkan revolvermag.com, salah satu laman musik berpengaruh yang berhaluan keras dibaca Cesar Akbar. Ia menerjemahkan laman yang berbasis bahasa Inggris itu tentang kesembilan personel yang memuntahkan perasaannya dalam album “IOWA”. Sesuai terjemahannya, pada hari itu adalah ulang tahun ke-17 band Nu Metal tersebut. Setiap personel mengungkapkan sudut pandang terhadap album paling gelap, penuh amarah, disertai berbagai macam pengaruh candu yang mereka alami. Kutipan hasil wawancara menggambarkan kondisi dan tujuan band saat album itu digarap, pada tahun 2011. Dari kebencian antarpersonel, ketidakyakinan setiap personil terhadap masa depan band, kehancuran hubungan dengan keluarga, dan kecanduan terhadap alkohol dan obat-obatan. Seluruh tema tersebut mewarnai setiap judul lagu yang masuk dalam album yang bahkan perusahaan rekaman band IOWA ini tidak yakin. Label mereka justru berpikir tidak akan mampu untuk menjual dan mendistribusikan album yang rilis, pada 28 Agustus 2001.

Pembicaraan di ujung diskusi tersebut merupakan ujung tali dari topik-topik random sejak awal. Entah apa yang dapat dipintal dari percakapan yang dihiasi mata langit yang mulai menjatuhkan bulir senja. Barangkali perekat semua topik yang dibicarakan dari awal hingga akhir, yakni melahirkan sebuah karya sepenuh jiwa tidak sama dengan seorang perempuan yang mengandung selama sembilan bulan. Artinya, perhitungannya tidak dapat ditentukan seperti demikian, tidak dapat ditebak. Kecuali perasaan dengan pikiran bercumbu sehingga melahirkan kejujuran, seperti mudah, tapi kenyataannya sulit. Serumit oknum aparatur negara yang merawat kesetiaannya pada nurani. Perlu mental matahari untuk menerangi negeri ini, tanpa kekuatan itu, semuanya adalah manipulasi.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.