Persoalan yang terjadi; soal bumi, bulan, dan matahari sering menuai perdebatan berbagai pendapat. Ya, perhitungan yang diperbincangkan beberapa kubu mengatakan, “Kamu datang terlambat,” lalu alasan diberikan, “Aku telah berusaha tepat waktu hanya saja ada masalah kecil menghambatku di jalan.”

Seorang ibu menanak nasi dengan kastrol, lupa memadamkan api yang terus menyala. Dia lupa menghitung batas didih dan bara agar beras matang. Sebab terlalu lama mengurusi anaknya mandi, menjadi masalah tersendiri.

Masih ingat kisah para pemuda Ashabul Kahfi yang menyelamatkan diri demi mempertahankan keyakinan dari kejaran Raja Diqyanus yang sangat kejam? Mereka menyelamatkan keyakinan terhadap Allah SWT sebagai Tuhan yang menciptakan alam semesta dan seluruh isinya.

Gua adalah tempat singgah selama masa pengejaran dan pengasingan. Peristiwa tersebut telah membuat mereka melewati berbagai masa generasi. Mereka menyadari bahwa waktu telah berlalu sekian ratus tahun. Mereka tertidur selama menjaga keyakinan mereka terhadap Tuhan hingga membangunkannya kembali pada zaman yang berbeda.

Berbeda dengan kisah yang ditulis Mitch Albom dalam bukunya berjudul, “The Time Keeper” yang berarti “Sang Penjaga Waktu”. Ia menceritakan tentang para tokoh yang memiliki kelebihan dalam mendapatkan capaian hidup. Seperti kebanyakan orang, mereka ketakutan ketika dihadapkan pada sebuah kesempatan yang tentu saja membutuhkan waktu lebih lama.  Namun, setiap orang memiliki batas waktu untuk memiliki kesempatan dalam mengubah nasibnya masing-masing.

“Siapa itu?” Dor berteriak. Dia berusaha ke luar dari gua ketika laki-laki tua meninggalkannya. Dia mencari lorong-lorong rahasia dan menggedor-gedor dinding batu kapur. Berusaha masuk ke dalam kolam air mata, tetapi ditolak dengan udara, seolah-olah ada jutaan napas yang mendorongnya ke atas.

Dalam keterasingan, Dor mendengar suara-suara yang berasal dari kolam dan berpendar. Termasuk suara Sarah dan Victor. Mereka bertiga berasal dari zaman yang berbeda. Persamaan dari perbedaan alasan kisahnya, yaitu merasa kehabisan waktu. Mereka memiliki keinginan agar waktu lebih lama dan panjang untuk mengubah kesedihan dan kesialan jalan hidup.

Dor seorang lelaki yang duduk sendirian di dalam gua. Rambutnya panjang, jenggotnya mencapai lutut, dua tangannya menopang dagu. Kedua matanya dipejamkan, mendengarkan sesuatu, suara-suara yang melayang dari sebuah kolam di pojokan gua. Suara-suara yang datang dari bumi. Hanya satu yang mereka inginkan. Waktu.

Sarah Lemon adalah salah satu suara itu. Dia gadis remaja yang hidup di masa kini. Dia selalu menghitung jam demi bertemu dengan seorang lelaki tampan. Sarah termasuk anak pintar, unik, dan aneh.

Suara lainnya datang dari tokoh Victor Delamonte. Dia laki-laki kaya berumur delapan puluhan tahun. Dia berada di sebuah ruang dokter praktik yang ditemani istrinya. Sang dokter berbicara dengan lembut, “Tidak banyak yang bisa kami lakukan,” katanya. Tumor-tumor dan ginjal-ginjal tidak ada hasil yang signifikan selama perawatan berbulan-bulan.

“Berapa banyak waktu yang tersisa untuk suami saya?” Tanya Grace mewakili suaminya dalam hati.

Lelaki tua menunjukkan peristiwa-peristiwa kepada Dor, Sarah, dan Victor. Satu per satu mereka menembus waktu. Mereka ketakutan melihat peristiwa yang telah dan akan terjadi yang ditunjukkan si lelaki tua. Dia menjelaskan bahwa begitu kita mulai menghitung waktu, kita kehilangan kemampuan untuk merasa puas.

Dr. Sarah Lemon telah menemukan obat untuk penyakit yang paling ditakuti jutaan manusia. Dia mendapatkan beasiswa dari seorang dermawan kaya raya bernama Victor Delamonte. Sarah menyelamatkan Victor dengan obat temuannya, meski beberapa bulan kemudian dia meninggal dunia.

Dor dan seorang perempuan bernama Alli berlari bertelanjang kaki di lereng bukit. Saling melempar batu dan tertawa bersama anak-anak mereka, dan waktu tidak terlintas di benak mereka.
Hidup bukan soal beradu kecepatan lari dengan detak jarum jam, menit, dan detik. Setiap orang akan menemukan maknanya masing-masing setelah melalui berbagai peristiwa. Setelah itu, langkah perjalanan mereka tidak akan lagi diburu dengan ketakutan-ketakutan. Setiap orang memiliki batas waktu, yaitu kematian.

Dialah pencipta jarum jam pertama di dunia. Dia dihukum karena mencoba mengukur anugerah terbesar dari Tuhan, diasingkan ke dalam gua hingga berabad-abad dan dipaksa mendengar suara orang-orang yang minta diberi lebih banyak waktu. Lalu dia kembali ke dunia kita, dengan membawa jam pasir ajaib dan sebuah misi; menebus kesalahannya dengan mempertemukan dua manusia di bumi, untuk mengajarkan waktu kepada mereka.

 

Keterangan: Tulisan ini dimuat ulang yang bersumber dari “Sepucuk Surat dari Sunyi”, diterbitkan Langgam Pustaka, 2017.

alt
Ilustrasi Cover by Leo Ruslan Aryandinata

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here