Novel yang digadang-gadang sebagai karya literatur terbaik sepanjang masa, “Don Quixote” yang ditulis Miguel de Cervantes dari Spanyol, apakah telah tamat dibaca? Setiap individu memiliki level bacaan masing-masing, tetapi untuk sampai pada level menulis, seseorang butuh level bacaan yang sungguh tinggi. Menulis secara sederhana memindahkan gagasan yang ada di kepala ke dalam tulisan. Seperti sederhana, tetapi tidak semudah itu. Banyak faktor dalam membuat karya tulis sangat sulit. Seseorang memiliki kemampuan bercerita kepada temannya yang sangat menarik. Namun ketika dituliskan menjadi rumit. Meskipun seseorang tersebut memiliki banyak gagasan yang luar biasa. Barangkali, ia hanya memiliki kemampuan verbal semata.

Kesadaran para penggiat dalam mengampanyekan budaya baca kepada anak-anak dan warga patut disyukuri. Memang benar bahwa literasi itu persoalan membaca. Menjadi masalah kemudian, ketika kesadaran ini berakhir dan tersumbat dalam kehidupan kaum penggiat. Masalah berikutnya, apa yang terjadi dengan para penggiat? Apakah mereka juga seorang pembaca yang baik? Apakah mereka telah mencapai level membaca yang tinggi? Coba ingat-ingat bacaan terakhir?

Gagasan atau imajinasi yang luar biasa, tidak mudah untuk diubah ke dalam bentuk teks. Sebab teks merupakan masalah yang memerlukan pemikiran matang dalam penyusunannya. Setiap kata dalam kalimat memiliki runtutan SPOK, yang memang dapat disesuaikan posisi katanya. “Aku pergi ke sawah”, tidak bisa kemudian, “Sawah pergi ke aku”. Membuat kalimat yang bermakna perlu ilmunya, tidak sembarang agar dimengerti orang.

Seseorang harus terampil dalam penguasaan kata untuk menyusunnya. Penyusunan kata-kata itu tidak sederhana, susah ditangkap, dan liar. Kenapa seperti demikian? Karena ‘kata’ tidak memiliki makna yang tetap. Makan, misalnya, apakah ‘makan’ itu berarti memasukkan lauk ke mulut lalu mengunyah dan menelannya? Makna ‘makan’ itu bergerak dan berbeda-beda, tergantung ‘kata’ yang berada di belakang dan depannya. Apakah ‘makan pagi’ dengan ‘makan siang’ itu sama? Mirip memang, tetapi ada makna ‘makan’ yang lain, ‘makan teman’, misalnya.

Menulis berarti memindahkan imajinasi yang luar biasa ke dalam bahasa. Celakanya, meskipun menguasai bahasa belum tentu bisa menaklukkannya. Kenapa? Bahasa itu terbatas. Bahasa itu produk kebudayaan dan buatan manusia.

Itulah alasan kuat jika seseorang menguasai ragam bahasa sedemikian rupa, maka dapat memperlakukan seberkuasa dirinya. Hanya seorang pembaca yang luar biasa yang kemudian dapat melahirkan karya tulis luar biasa. Tidak ada temuan seorang penulis yang buta huruf, misalnya. Bagaimana dengan Hellen Keler? Ia seorang pembaca yang luar biasa sehingga dapat menulis luar biasa juga dengan huruf braile. Ia bukan buta huruf, hanya buta visual saja. Ia rajin membaca dan mendengar kisah-kisah terbaik di seluruh dunia. Bahkan, ia dapat berguru langsung kepada penulis-penulis ternama.

Pelajaran pertama di sekolah adalah membaca, bukan menulis. Seringkali di hampir seluruh pelatihan menulis, diajarkan membuat puisi, cerpen, artikel, dan lain-lain. Akan tetapi, perangkat pertama belum diinstal ke dalam kepalanya. Program utama, yakni bahasa yang beragam bentuk, belum masuk ke dalam dirinya. Sehingga ia kesulitan, belajar keterampilan menulis apa pun akan kesulitan. Ketika ia bisa menjadi penulis, paling banter hanya mampu menjadi seorang penulis medium, susah untuk berkembang.

Akhir-akhir ini, fase dilematis dalam menghadapi situasi yang memungkinkan bahwa penulis ‘biasa’ pun, bukunya dapat dibeli banyak orang. Kemungkinan dapat memiliki royalti dan keuntungan. Tulisan-tulisan ‘jelek’ yang ngartis banyak, laris karena masih banyak pembaca yang ‘biasa’ juga. Banyak kalimat-kalimat lebay, twitterian, instagrammable, yang laris diburu pembeli. Namun sayang seribu kali sayang, baik penulis dengan pembacanya memiliki level bacaan yang masih rendah.

Untuk sampai level menulis yang serius dibutuhkan membaca yang juga serius. Jika level intelektual seseorang capaiannya Z, ia mesti berjuang untuk menggapai level bacaan Z. Siapa pun dapat menjadi penulis hebat jika memiliki kemampuan atau daya baca yang hebat juga.

Tulisan adalah gagasan, jenisnya apa pun. Puisi, cerpen dan novel juga gagasan. Sebuah novel karya Mochtar Lubis berjudul “Harimau-harimau”, misalnya. Sangat baik dibaca untuk anak-anak dalam rangka mengampanyekan cinta lingkungan. Pemburu di hutan, kemudian diburu harimau. Suasana hutannya sangat menarik.

Buku ini dapat dibaca sebagai sebuah cerita petualangan di rimba raya oleh sekelompok pengumpul damar yang diburu oleh seekor harimau yang kelaparan. Berhari-hari mereka mencoba menyelamatkan diri mereka dan seorang demi seorang di antara mereka jatuh menjadi korban terkaman harimau. Di tingkat lain, juga terjadi petualangan dalam diri masing-masing anggota kelompok pengumpul damar ini. Di bawah tekanan ancaman harimau yang terus-menerus memburu mereka, dalam diri mereka masing-masing, yang mempertinggi pula kesadaran mereka tentang kekuatan dan kelemahan-kelemahan para anggota kelompok mereka yang lain. Di antara mereka malahan sampai pada kesadaran bahwa sebelum membunuh harimau yang memburu-buru mereka, tak kalah pentingnya ialah untuk membunuh terlebih dahulu harimau yang berada dalam setiap anak manusia. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Jerman, dan sebuah terjemahan dalam bahasa Jepang digarap pula.1

Orang-orang asing tertarik membaca novel ini. Dua doktor asing saja membaca novel ini. Konon mereka akan meneliti monyet dan kodok. Meskipun kuliah biologi di luar negeri, tetapi kenal dengan Mochtar Lubis. Orang-orang di negara maju, meneliti hutan, bacaannya novel tentang hutan.

Kepenulisan sangat berkaitan langsung dengan seberapa tinggi level bacaan. Isu gerakan literasi yang tengah gencar digeliatkan para penggiat dan pemerintah dikupas. Pemerintah tidak perlu mengganggu kesadaran para aktivis literasi yang bergerak karena panggilan. Bukan diajak euforia dalam acara-acara literasi yang tidak kunjung diserap masyarakat.2

__________________________________________________________

  1. https://www.goodreads.com/book/show/1455669.Harimau_Harimau_
  2. Rangkuman kuliah sastra selama sepuluh menit oleh Aslan Abidin, sastrawan berdarah Bugis, pada residensi literasi sains di Rumah Hijau Denassa, Gowa, Sulawesi Selatan (31 Juli – 3 Agustus).

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.