Barangkali kerap tidak disadari oleh sebagian musisi bahwa kedalaman lirik dapat memengaruhi siapa pun dengan jenis musik apa pun. Termasuk, bagi para musisi underground yang kelahirannya berawal dari sebuah keadaan yang serba terdesak. Mengingat sejarahnya yang kerap melahirkan para pemberontak. Diekspresikan melalui lagu dengan teknik vokal teriakan yang tidak sekadar dipompa jantung, tetapi juga dorongan dari dalam. Tentu saja dengan keadaan jiwa yang berat.

Ada hal menarik dalam ‘Jamah Karya’ bertajuk “Road to Tasikmetalaya” yang diselenggarakan tempo hari, Minggu (8/7/2018). Sebab salah satu band yang dibedah musi dan liriknya, diadaptasi dari sebuah novel dan pemikiran tokoh dunia. Menurut Diyin, salah seorang personilnya bahwa konten lirik kerap diabaikan dalam jenis musik cadas. Padahal, lirik adalah salah satu muatan terpenting dalam memahami sebuah lagu, kepribadian dan pengalaman hidup seseorang. Tidak sedikit pihak yang terlalu naïf terhadap persoalan lirik. Tidak sedikit pula yang mencerca soal teknik nyanyian yang berbeda. Bahkan ada saja pandangan yang merendahkan suatu lirik hanya karena menggunakan diksi terlalu mudah untuk dipahami.

Venomous mencoba gaya baru, terkhusus dalam penulisan lirik. Sebuah band yang dibentuk pada tahun 2013 di Yogyakarta ini berawal dari pertemanan komunitas pecinta musik. Mereka tidak sekadar nongkrong, tetapi memiliki visi yang sama sehingga kelima pemuda tersebut sepakat untuk berkarya bersama. Formasi Pandawa tersebut di antaranya: Jo (gitar/vokal), Imam (gitar), Jessica (vokal), Agus (drums), dan Reza (bass). Pada tahun 2014, mereka mengeluarkan single pertamanya yang berjudul “Penghakiman”. Bertualang dari panggung ke panggung di berbagai acara di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Band yang juga tergabung dalam komunitas Jogjakarta Corpse Grinder (JCG) ini mengeluarkan demo yang berisi 2 lagu pada awal tahun 2015.

Mereka pun merilis sebuah demo dengan berisi lima lagu yang diberi tajuk “Destroy Me Demo”, pada September 2015. Venomous kerap mengisi acara di berbagai acara di Yogyakarta dan Jawa Tengah bersama band-band metal terbaik tanah air: Jasad, Death Vomit, Down For Life, Hellcrust, dan lain-lain. Mereka bukan berarti sebuah band yang tanpa dinamika, sempat juga mengalami pergantian personil. Pada akhir tahun 2016, Jessica memutuskan untuk mundur karena ingin menyelesaikan studinya. Jo, memang sebagai backing vocal, seiring waktu ia menjadi vokalis utama dengan tetap bermain gitar. Hingga pada April 2017, Diyin bergabung dengan Venomous sebagai vokalis. Band ini mengusung genre melodic death metal yang jarang ada di Indonesia. Mereka pun mengangkat berbagai tema dalam liriknya, antara lain intoleranisme, kritik sosial, politik, nihilisme dan inner-struggle. Selain single dan 2 demo di atas, Venomous juga masuk dalam album kompilasi “Metal Force Society #1” yang dirilis Depression Record, dan “V/A Record Store Day 2017 Chapter Yogyakarta” dirilis Jogja Record Store Club. Kini, mereka tengah merampungkan pengumpulan materi untuk album perdananya. Mereka bertekad menjadi salah satu band yang berpengaruh di Indonesia, bahkan juga lebih.

Bagi Diyin, terlepas dari cara penyampaian (cara nyanyian) yang berbeda, siapa pun tidak berhak memandang sebelah mata sebuah lirik. Mengapa? Karena bagi para pelaku di bidang musik keras, lirik adalah sebuah senjata, sebuah media untuk memenuhi hasrat akan keresahan diri.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.