alt
Ilustrasi Leo Aryandinata

Istrinya sudah pusing dengan kelakuan Sukmoko. Kepalanya seperti berputar bersama kincir angin dari botol plastik di teras tetangga. Sering berisik jika malam berhambur angin. Suara kereket pada papan penyanggahnya juga pada kawat yang melilit botol plastik itu, membuat kepalanya semakin memusing seperti arus besar di tengah laut jika badai, di tambah suaminya yang setiap malam berjongkok –dengan tubuh yang bergidik– di sudut kamar. Mata merah menatap liar kemana suka, dan –seperti biasa– telinganya ditutup telapak tangannya erat-erat, udara pun tak boleh masuk ke sana.

“Mas, sudah cukup! Aku sudah tak tahan, pulangkan aku ke rumah Ibu!” Teriak istrinya di muka Sukmoko.

Lelaki itu –Sukmoko– tak meresponnya sama sekali. Malah tubuhnya semakin bergetar, keringat menjadi hujan di tubuhnya, kaos oblong polos yang ia kenakan basah kuyup seperti cucian yang baru ditangkaikan di tali jemuran. Dari rambutnya, keringat membentuk sungai menyusuri kening –sebagian membentuk telaga di sana— lalu menyusur ke pipi tirusnya dan berakhir di dagunya yang lancip. Keringat itu menjentik sebelum menetes ke sarung kotak-kotak yang ia pakai salat isya.

Istrinya membanting pintu dengan tas gemuk yang digusurnya. Lelaki itu melihat langkahnya menjauh, ketika suara yang menggangu di telinganya kembali menggaung hingga langit-langit kepalanya. Urat-urat keningnya membesar dan silih tarik. Ia ingin memecahkan kepalanya, dan mencari asal muasal suara itu, yang saban malam menggangu tidurnya. Dalam pikir Sukmoko, mungkin di dalam kepalanya ada iblis kecil. Iblis kecil itu berlali memuai kepalanya sambil berteriak-teriak. Sudah ia pastikan, jika ia pecahkan kepalanya, ia akan temui iblis kecil itu, lantas ia cekik dengan tangannya yang kuat. Sampai ia tak menggangu isi kepalanya lagi. Lamunannya semakin dalam, menyuguhkan kemungkinan-kemungkinan yang akan ia lakukan pada iblis kecil di dalam kepalanya. Namun, setelah ia pikir lagi, jika ia pecahkan kepalanya, ia takkan memiliki kepala lagi.

“Ahh, persetan! Akan kucari kau di dalam kepalaku. Jangan panggil aku Sukmoko kalau aku takut padamu, Setan Alas!” Teriaknya keras kepada kepalanya sendiri.

Ia berlari menuju dapur, dan entah ingin mencari apa ke sana. Karena kebingungan berumah padanya ketika sampai di dapur. Ia melihat pisau, dalam pikirannya lagi, kepalanya takkan bisa dibelah dengan pisau dapur yang dipakai memotong bawang saja tak pernah rapi irisannya. Lalu ia membongkar lemari piring. Ia temukan panci. Menurutnya, mungkin panci bisa membuat kepalanya pecah. Panci dalam pelukan tangannya segera dihantamkan pada ubun-ubunnya yang keras. Bukan kepalanya yang pecah, malah panci itu penyok membentuk lengkungan menyerupai kepalanya. Alhasil, ia lempar panci itu ke sembarang tempat.

Lelaki itu dengan napas diburu terus mencari benda apa saja di dapur. Beberapa kali kepalanya kena hantaman benda-benda keras: Sendok, mangkuk, piring, gelas, penggorengan, dsb. Pada akhirnya ia menemukan kunci inggris di bawah wastafel bekas. Ia membetulkan pipa keran tempat istrinya cuci piring. Alangkah senang hatinya bisa menemukan kunci inggris itu seperti kebahagiaan ketika mendengar tangisan anak pertama yang sehat dilahirkan, lalu ia mengayun-ayun dalam gendongnya dengan erat.

Ia sudah bersiap memecahkan kepalanya dengan kunci inggris seberat dua sampai tiga kilo. Ia akan segera menemui iblis kecil di dalam kepalanya. Sebentar lagi iblis kecil itu akan segera ia tamatkan riwayatnya.  Di tengah-tengah ia memikirkan iblis kecil di dalam kepalanya, seketika ia diam. Ia merasakan kesunyian mengalun di dalam kepalanya. Suara iblis kecil itu sudah tak ada, katanya dalam hati. Mungkin ia baru sadari hal itu. Sebab sesampainya ia di dapur, dan mengubahnya menjadi puing-puing dalam kapal pecah, tak ia sadari, suara yang menggangu kepalanya sudah tak ada.

Ditengoknya jam dinding di ruang tengah yang berseberangan dengan dapur. Jarum panjangnya menuduh pada angka empat. Lalu ia tertawa sendiri. Ia baru ingat, suara itu akan berhenti menggema di kelapanya bila sudah pukul tiga lebih –tak pasti lebihnya, sebab ia tak pernah memastikan pukul berapa suara dalam kepalanya berhenti.

Dengan suka, ia berlari menuju kamarnya lagi. Ia berteriak-teriak memanggil istrinya. Ia ingin membagi kebahagiaannya bersama istri tercintanya. Sebab tak ada yang lebih menenangkan bila ia menjumpai dini hari sampai senja, selanjutnya ketika bulan menggantung di dinding langit dan bintang-bintang berhamburan di sana, kepalanya akan dipenuhi suara-suara aneh yang membuat ia tak bisa tidur lagi. Apalagi ketika suara dalam kepalanya mengancam akan mengambil istri tercintanya untuk dikawani. Lelaki itu akan sangat marah mendengar itu, dan ia akan balik mengancam memecahkan kepalanya sendiri agar suara itu tidak memiliki rumah lagi untuk menggaung.

Sesampainya di kamar dengan kunci inggris masih dalam genggaman tangannya. Ia tak melihat siapa pun. Alisnya terangkat sebelah, seperti seseorang dalam iklan produk permen yang sering ia lihat di teve. Ohh, mungkin istrinya sedang ke kamar mandi, lirihnya. Kebiasaannya buang air kecil tengah malam sudah ia hafal dari sejak pacaran.

Masa itu, ia pernah diam-diam menginap di indekosnya sepulang acara malam di kampus. Ia ingat ketika memanjat pagar dengan hati-hati agar tak ada sedikit pun suara yang terdengar. Bila terdengar suara sedikit saja, bisa-bisa terdengar bapak indekosnya, lalu ia tertangkap dan menyuruhnya pulang, itu masih mending. Bagaimana jika dilaporkan ke polisi karena dituding maling, itu lebih gawat.

Ia berjalan mengedap ke arah kamar mandi di sebelah kanan pintu ke luar kamarnya. Kupingnya ditempelkan ke daun pintu kamar mandi itu. Beberapa lama, ia tak mendengar apa-apa. Apakah istrinya sedang buang air besar? Tanyanya sendiri. Kalau begitu ia akan menunggu istrinya ke luar lalu mengejutkannya saat pintu itu terbuka.

Ia menunggu sangat lama. Istrinya belum keluar juga. Matahari sudah menyalakan tirai penutup jendelanya. Sedikit-sedikit tubuh lelaki itu juga tersapu sinar matahari. Sesampainya sinar itu pada kepalanya, ada yang mengusik ingatannya! Tentang hal yang membikinnya sakit, teramat sakit dan menyedihkan. Ia pun tak bisa menahan kesedihan yang muncul dari dalam hatinya, mendorong sampai ke ujung matanya. Namun, ia masih tak tahu apa hal yang membuatnya begitu sakit dan sedih. Kepalanya kembali memusing, dan entah ia ingin sekali marah, karena ia tak bisa menjawab pertanyaannya sendiri, sebenarnya apa yang sedang ia dukakan? Air matanya menghulu sejentik ke pipi, disusul dengan hulu-hulu yang lain yang masih mengarungi jalur yang sama.

Ingatan memusing di kepalanya, seperti kincir angin dari botol plastik di teras tetangganya. Sedikit-sedikit ingatannya mulai terbuka, ia ingat seseorang yang pergi dengan tas besar meninggalkannya. Seorang perempuan yang pergi menjauh menuju lawang kamar.

***

Pagi itu, kantor mendapat berita duka. Ramto Sukmoko, pegawai tetap, seorang sekretaris pribadi Pak Harno Sukat (Direktur Perusahaan), meninggal di kamarnya sendiri dengan kunci inggris yang menancap di kepalanya. Dugaan sementara, ia dibunuh istrinya sendiri karena stres menghadapi suaminya yang gila setiap malam.

Tasikmalaya, 3 November 2016.

Tentang Penulis

 

alt
Mufidz Atthoriq S.

Mufidz At-thoriq Syarifudin lahir di Bandung, 26 Juni 1994. Dari kecil menetap di Tasikmalaya bersama keluarganya.

Menulis cerpen, puisi, cermin, essai/laporan budaya, dan naskah drama. Beberapa karyanya pernah dimuat Pikiran Rakyat,Kabar Priangan, Banjarmasin Post, Radar Tasikmalaya, Buruan.co, Radar Banyuwangi, Bentangpustaka.com, Detakpekanbaru.com, Majelissastra.com, sastramu.com,Pos Merto Prabu, BuanaKata.com, Buletin Estetika Diksatrasia, dan lain-lain. Cerpennya yang berjudul “Lukisan Lusni” menjadi juara 1 Lomba Menulis Cerpen Se-Jawa Barat Gebyar Bulan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Siliwangi 2016, cerpen “Gelisah” menjadi Juara 2 FSA II Lomba Menulis Cerpen Se-Priangan Timur UPI Kampus Tasikmalaya 2014, “Di Tubuh Cermin, Marnus Bermain” menjadi Cermin pilihan Bentang Pustaka, antologi cerpen “Batu yang Dililit Ari” menjadi nominator Siwa Nataraja Award II (2016) dan antologi cerpen “Kampung Sebelah” masuk 8 besar Siwa Nataraja Award II (2016). Cerpen dan puisinya juga tergabung dalam beberapa antologi bersama. Buku kumpulan cerpen tunggalnya“Bapak Kucing” (2015) dan “Batu yang Dililit Ari” (2016). Selain menulis, aktif juga di Teater 28, Berada 57, Langgam Pustaka dan sekarang menjadi Koor. Sastra Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya. Dapat dihubungi via ponsel 085216737707, facebook/surel: mufidzatthoriq@gmail.com, instagram: @mufidzatthoriqs.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.