Seorang urban biasanya mudah membangun wilayah di luar tanah kelahirannya. Secara geografis, demografi, dan kultur memengaruhi seseorang tumbuh dengan memiliki kemampuan berbeda. Siapa pun memiliki pengaruh kuat terhadap potensi dirinya untuk kemudian dibawa ke wilayah lainnya. Ia kerap berbeda kemauan dan kemampuannya dengan penduduk lokal. Sebenarnya, tidak ada yang lebih dan kurang dari keduanya, kecuali saling mengisi maka terjadilah hentakan dan kejutan.

Pendatang kerap membawa sesuatu yang baru pada sebuah wilayah yang dituju. Ini berlaku terhadap para pendatang di seluruh sudut bumi, sebab tugas yang harus segera diputuskannya adalah bertahan atau mati.

Jamu Tamu yang kemudian diubah seketika pascaacara dengan topik Semah di Imah merupakan sebuah acara spontan yang diselenggarakan Germiet dan Cesar Akbar. Mereka berdua merespon kawannya yang tengah pulang ke Tasikmalaya. Kawannya itu telah berproses kreatif selama tinggal di Lombok – NTB. Diskusi proses kreatif pembuatan dokumentasi “Tanah Angkasa” karya Yuga Anggana, berlokasi di Green Coffee Tasikmalaya, (Rabu, 30 Juni 2018).

Berdiskusi sambil ngopi juga berkesenian, bukan soal kualitas dan kuantitas, tetapi soal mengeksekusi gagasan kreatif dengan sumber daya serta sarana yang seadanya menjadi efektif. Berusaha memberi kontribusi positif terhadap citra kualitas sumber daya manusia dari Tasikmalaya. “Keren nih, komunikasi antarbudaya dalam rangka saling mencerdaskan anak bangsa,” respon Yuga. Begitulah latar belakang yang menjadi alasan acara spontan tersebut terwujud.

“Malam itu, di Green Coffee, pengetahuan-pengetahuan muncul dari hasil dialog sarat komparasi. Mengukur antusiasme budaya diskusi dari kawan-kawan Tasikmalaya, segelintir yang hadir. Hanya beberapa yang mengikuti atmosfer diskusi. Tetapi satu orang saja, siapa pun itu, bisa menjadi agen perubahan. Apalagi dua, tiga dan atau sekian orang,” unggah sang narasumber di instagramnya.

Siapa Yuga Anggana? Proses kreatif pembuatan dokumentasi “Tanah Angkasa” adalah anak karyanya yang dilahirkan di Lombok. Karyanya tumbuh sehat dan berpotensi. Ia memaparkan latar belakang kelahiran karyanya yang berawal dari ketidakmampuan berbahasa asing di sebuah wilayah pariwisata Nusa Tenggara Barat. Ketidakmampuan tersebut justru memantik inspirasi, “Anjiiiir, aya Alien!” katanya dalam bahasa ibu. Alasan mengangkat tema angkasa, karena Senggigi semacam planet Mars.

Albumnya lahir sangat lama dan tidak dikenal sebelumnya. Ia melakukan terobosan dengan membuat lagu, pentas, lalu menarik simpati penggemar fanatik. Selain berkreativitas dalam mengisi waktu, ia ternyata seorang dosen. Di sana, ia membangun atmosfer diskusi bersama mahasiswanya.

Pendidikan untuk Semua. Begitu sepenggal tulisan grafiti di sebidang tembok Jl. H.Z. Mustofa Tasikmalaya. Sudahkah sadar dan mampu menjadikan segala sesuatu yang baik di kota ini sebagai pembelajaran? Jika iya ataupun belum, lalu apa yang bisa diberikan dalam hal pembelajaran untuk kota yang sedang dalam masa pertumbuhan ini?

Lanjutan unggahan pada instagram Yuga adalah kepingan cintanya yang masih meretas hingga terbawa arus ke pesisir tenggara. Ia masih berharap ada semacam gerakan yang tanpa baku hantam; semacam deburan ombak menghempas batu karas. Kekhawatirannya adalah harmoni musik sebelum diterjemahkan chord dan nada dawai atau getar pita suara. Sebelum sesuatu bergetar dan disebut bunyi, ia berdegup seperti detak jantung yang mengatur metronom seseorang untuk menciptakan dinamika hidupnya.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.