Suara apa yang ingin dan akan diteriakkan dari bawah tanah? Sedang di atas permukaan pun huru-hara lebih lantang ketimbang kegelisahan. Barangkali akan ada semacam tubrukan antara getaran bumi dengan langit. Atau bisa jadi, orang-orang tengah membenci terang; bersembunyi di gua-gua kehidupan. Saling mengasingkan diri, apatis, dan tidak peduli. Selamat datang para penghuni kegelapan. Jika masih temaram, berarti ada celah dan menagantarkan harapan pada jalan ke luar. Pesan apa yang dibawa dalam kegelapan? Selain bahasa spektrum yang berasal dari sumber cahaya.

alt
Jamah Karya 2 “Road to Tasikmetalaya” (Poster by Kiken @demonartdevils).

Barangkali musik-musik semacam Trash Metal, Death Metal, Hardcore, Metalcore, Deathcore, Punk, dan musik sejenisnya, tidak dapat dinikmati secara langsung. Gemuruh gitar dengan nuansa distorsi, noise, teriakan sang vokalis, serta lirik-lirik mistis, dan apatis, sangat hegemoni.

Band-band underground ketika manggung, tidak dapat dinikmati hanya dengan audio semata. Meskipun liriknya berbahasa Indonesia, sang vokalis menyanyikan lagunya dengan teknik scream, growl, grunt, dan tidak jelas artikulasinya. Tips menonton band-band semacam itu harus benar-benar emosional. Sangat cocok jika keadaan jiwa tengah memberontak pada suatu isu atau peristiwa. Apalagi jika liriknya berbahasa Inggris, paling tidak perlu menerjemahkan musik, lirik, dan pesannya. Tiga makna yang menyatukan esensi underground merupakan tantangan tersendiri bagi penikmat yang tidak biasa mengonsumsi aliran musik ini.

Nuansa gelap menyelimuti kehidupan anak-anak band ini, baik di atas atau bawah panggung kesehariannya. Tidak heran jika masyarakat kerap memberi stigma terhadap komunitas underground di setiap daerah. Termasuk, anak-anak band underground yang tumbuh di kota santri. Acara ‘Jamah Karya’ yang edisi kedua ini membedah lagu-lagu band underground dari Yogyakarta, Sukabumi, Bandung, dan Tasikmalaya. Band-band underground ini diberi ruang untuk mempresentasikan musik, lirik, dan proses kreatifnya. Inilah yang membuat mereka berbeda dan memberi sudut pandang lain terhadap jenis musik bawah tanah ini.

Penyelenggaraan ‘Jamah Karya’ bertajuk “Road to Tasikmetalaya” bertempat di Naw-naw Aliansi, Jalan Cipedes Nomor 25 Kota Tasikmalaya, (8/7/2018). Anak-anak muda dengan pakaian hitam, rambut panjang, dan didominasi laki-laki, meskipun beberapa perempuan hadir member nuansa sedikit manis. Para pembedah yang bertugas di antaranya: Zebugh Abdul jabar (Event Creator), Vudu Abdul Rahman (Lyrics Literature), Uus Abu Sofyan (Pengamat Musik Underground), dan Edwin Bule (Musisi – Drumer Discause/Guitarist Chaotic School). Para pembedah memberi pandangan terhadap band-band yang berusaha mempresentasikan single terbaiknya. Banyak hal yang kemudian ketika para musisi underground tersebut membedah karyanya sendiri. Mereka terlihat berusaha meyakinkan para pembedah untuk menguatkan sisi lain yang terlupakan dalam hal; pertunjukan, kekuatan lirik, dan aransemen musik.

alt
Cesar Akbar Memoderatori Bedah Musik dan Lirik (Dok. Agie Poanx).

Band-band yang dibedah dalam kesempatan ini di antaranya: Blood Soul, God Phobia, Gaijin, Tinta Hitam, Griffith, Starved Hero, Venomous, Art of Ruin, dan lainnya. Dari sepuluh band dengan beragam genre tersebut cukup dinamis, baik secara musik dan liriknya. Ada yang mengangkat isu sosial, kemunafikan, bahkan salah satu band mengadaptasi dari novel yang mengangkat filosofi kehidupan.

Menang harus berani, kalah juga mesti berani. Jika tidak, itulah sebabnya bangsa lain melecehkan generasi muda negeri ini. Semangat tersebut justru tumbuh dalam acara bedah lirik dan musik band-band underground yang tidak menghakimi. Membangun budaya kritis dalam mempertanggungjawabkan kekaryaan yang melahirkan nilai positif. Meskipun musik dan teriakan vokal menghasilkan audio gemuruh.

alt
Foto Bersama Pasca-Jamah Karya (Dk. Agie Poanx).

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.