Sebuah rumah bercat hijau sedikit tua, daun pintu dan jendela berwarna putih, menjadi rumah bagi percakapan beterbangan di udara. Halaman dan bunga-bunga seolah menjadi tamu, sedang tamu-tamu yang datang berganti, layaknya tuan di rumah sendiri.

Begitu banyak orang yang sibuk mematut posisi, mengambil gambar, mencetak kenangan. Aku-kamu, kita merasa cukup hanya menikmati udara di bawah pohon yang baru tumbuh separuh. Berdiri jauh dari keramaian. Terik matahari menerobos banyak melewati dedaun, menjatuhkan diri pada wajahmu yang masih basah.

Kau bilang, “Kau mau berfoto seperti mereka?”
Aku menggeleng, “No! Kamu tahu, aku tidak pernah suka mengambil gambar wajahku sendiri. Lagi pula, bukankah waktu-waktu berharga kita lebih sering tak kita bagi dengan kamera?”
Kau mengangguk setuju.

“Pulang?” tanyamu. Aku masih bergeming.
“Jadi, mau di sini sampai kiamat?” susulmu lagi.
Aku menatapmu lekat kemudian membuat senyum, “I’m finally home.”

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here