Kopi, Buku, Film, dan Musik dalam Satu Cangkir[1]. 

Konsep multiliterasi dirancang untuk menjawab keterampilan yang diperlukan di abad 21. Sehingga, Abidin berpendapat bahwa multiliterasi adalah keterampilan menggunakan beragam cara untuk menyatakan dan memahami ide-ide dan informasi dengan menggunakan bentuk-bentuk teks konvensional maupun teks inovatif, simbol dan multimedia.[2] Bentuk penyampaian informasi melalui konsep multiliterasi merupakan pembelajaran yang menggunakan kemampuan dalam berbagai media literasi yang menjadi satu kesatuan yang utuh sehingga mampu mengomunikasikan suatu informasi berdasarkan alur pemikiran yang jelas dan diolah dari berbagai disiplin ilmu dengan pemikiran logis, misalnya dengan mengkritisi, menganalisis maupun mengevaluasi.

Gerakan anak muda di Tasikmalaya dalam acara “Galunggung Aero Camp” (16-17 September 2017) yang menyajikan film “Aroma of Heaven” karya sutradara Budi Kurniawan, senapas dengan tiga sudut pandang anak-anak muda Tasikmalaya menjadi sebuah bentuk gerakan multiliterasi yang dikemas dalam rangkaian kegiatan “Sampurasun”. Gerakan mulitliterasi ini pun akan terus bergulir menjadi suatu karya kolaborasi yang menyajikan konsep-konsep baru dalam 10 (sepuluh) kompetensi multiliterasi sebagaimana disampaikan oleh Binkley, yaitu: (1) kreatifitas dan inovasi, (2) berpikir kritis, pemecahan masalah dan pembuatan keputusan, (3) metakognisi, (4) komunikasi, (5) kolaborasi, (6) literasi informasi, (7) literasi teknologi informasi dan komunikasi, (8) sikap berkewarganegaraan, (9) berkehidupan dan berkarier, dan (10) responsibilitas personal dan sosial termasuk kesadaran atas kompetensi dan budaya.[3] Gerakan multiliterasi ini pun mengajak berbagai komunitas lewat karya film musikal dengan latar sebuah kota kecil bernama Tasikmalaya.

Pada kesempatan diskusi tersebut, dikisahkan dalam salah satu tulisan pada laman raamfest.com yang berjudul “Kopi, Buku, Film, dan Musik dalam Satu Cangkir” bahwa diskusi saat itu menjadi semakin menarik dalam sajian kopi yang mengeluarkan aroma menggugah para peserta untuk semakin asik bercerita tentang karya untuk kota kecil bernama Tasikmalaya dalam ragam media dan keterampilan yang dimiliki mereka.

Sajian kopi disimbolkan sebagai kerinduan anak-anak muda Tasikmalaya akan masa depan kota kecil di tengah kegelapan untuk menemukan suatu cahaya lewat kolaborasi komunitas-komunitas yang ada menjadi satu karya bersama. Kopi selalu digambarkan memiliki filosofi tersendiri dalam keseharian ataupun karya seni sehingga lewat lomba “Battle Aero Press” pada acara “Galunggung Aero Camp” untuk menunjukkan keahliannya di depan 3 (tiga) juri berpengalaman dibidang peracikan kopi.

Lewat gerakan multiliterasi, komunitas-komunitas anak muda Tasikmalaya mencoba mengelaborasikan karya sebagai tanggung jawab personal dan sosial dalam kesadaran kompetensi dan budaya yang direpresentasi dalam berbagai bentuk baik tulisan yang dibukukan, film, maupun musik. Sekalipun berbagai latar belakang keterampilan dan pengetahuan dari komunitas-komunitas anak muda ini berbeda, tapi mereka masih memiliki keinginan untuk mengasah diri yang sempat hilang di masa sekolah atau karena keterbatasan ekonomi. Kesempatan kali itu, lewat gerakan multiliterasi ini para barista muda tetap mengasah diri dengan bunyi dan kalimat untuk melahirkan suatu karya seni bagi kota kecil tercinta, Tasikmalaya.

Semangat untuk mengembangkan diri dan mengharumkan kota kecil lewat lensa dan jajaran huruf menjadi suatu cara menumpahkan ide dan kreativitas serta inovasi bukan semata hanya sekadar eksistensi diri, tapi bentuk tanggung jawab mereka pada diri, masyarakat dan Tasikmalaya sebagai kota kelahiran mereka. Apresiasi lewat kehadiran baik fisik dan nonfisik menjadi dukungan yang diberikan individu maupun komunitas dari daerah lain seperti Garut, Majalengka, Cirebon, Bandung, Serang, Semarang, Jakarta, Pekanbaru dan Makasar. Menjadi nutrisi tersendiri bagi komunitas-komunitas di Tasikmalaya dalam menggerakan gerakan multiliterasi ini.

Salam Satu Frekuensi!

[1] Sumber Referensi: http://raamfest.com/kopi-buku-film-dan-musik-dalam-satu-cangkir/

[2] http://repository.unpas.ac.id/30960/2/BAB%20II.pdf

[3] Ibid.

Tentang Pengulas/Reviewer

alt
Ditta Wisnu (Pengulas Terbaik Bulan Juni 2018).

Ditta Wisnu menamatkan pendidikan S1 di Fakultas Hukum Universitas Pancasila dengan kekhususan Tata Negara dan S2 di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dengan kekhususan Kenegaraan.

Ia pernah menjadi peneliti di MaPPI FHUI, pernah bekerja sebagai volunteer di Yayasan Jurnal Perempuan, Sekretaris Redaksi di Koran Investor Daily, Sekretaris Eksekutif dan Advokasi di Yayasan Kalyanamitra, Koordinator Program OVC (disabilitas) di Helen Keller Internasional, Legal Officer di Brawijaya Women and Children Hospital, Program Manager di LBH Jakarta serta Asisten Koordinator Divisi Reformasi Hukum dan Kebijakan di Komnas Perempuan.

Aktif juga diberbagai jaringan dalam beragam isu yang berbasis hak asasi manusia dan spesialisasi dalam bidang peraturan perundang-undangan (legal drafting).

Redaksi: Ulasan ini dipilih sebagai ulasan terbaik bulan Juni 2018, karena selain dalam juga ditelaah secara intelektual oleh Ditta Wisnu. Ia berhak mendapatkan T-Shirt raamfest.com (limited edition) dan foto wajahnya disketsa Komunitas Langit (@sketchofthesky).

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.