Seorang pengunjung ketika masuk ke sebuah galeri, ia berhak menggunakan sudut pandangnya terhadap karya yang dipamerkan. Bisa saja ia menggunakan mata dadaisme, sebuah aliran dalam seni rupa dan sastra yang berusaha menolak keterhubungan logis antara pikiran dan ekspresi. Sedang pengunjung lain lebih menafsirkan ekspresionisme terhadap sebuah karya seni rupa, yang berusaha melukiskan aktualitas yang didistorsi ke arah suasana kesedihan, kekerasan, atau tekanan batin yang berat. Bahkan ada yang mengatakan bahwa karya yang dilihat pengunjung, lebih cenderung menganut sebuah aliran yang menantang pemikiran-pemikiran akademis.

Dalam masyarakat kita, apresiasi, pertimbangan, penilaian serta pengkajian suatu proses kesenian dan karya seni belum menjadi aktivitas intelektual. Tak heran jika kemudian yang tampil bukannya ‘kritik seni’ yang sehat tapi justru ‘seni kritik’. Sebuah cara menyampaikan kritik lebih penting daripada substansi karya itu sendiri. Hal ini karena mungkin belum terlalu dalam pemahaman akan kompleksitas seni pada diri pencinta seni (Alamanak Seni Rupa Indonesia, hal 84: 2012).

Meskipun seorang ilustrator memiliki definisi sendiri, tapi ketika karyanya dihadirkan di tengah publik, ia mesti berani dipandang dari sudut lain. Seorang ilustrator tidak dapat memaksakan diri agar karya dalam maujud abstrak, surealis, dadais, absurd, dan apa pun istilahnya diterima.

alt
Ajian Doa (Ilustrator: Gebby Bagaskaras)

Kepala lebih besar selain bagian tubuh lain dalam “Ajian Doa”. Jika ditafsirkan oleh pengunjung yang tidak memiliki bekal seni rupa tentu saja sulit dipahami. Meski pesan yang ditaruh si empukarya sangat sederhana tentang seseorang yang frustasi karena banyak masalah. Seluruh tubuh memang terilustrasikan, hanya saja yang mendominasi satu bagian, yaitu kepala. Gambaran kepala lebih besar karena memang digambarkan sebagai tong sampah pikiran. Bertumpuk pada tempurung persoalan yang kerap dialami semua orang. Tangan berdoa, air mengalir dari mata, yang diakibatkan bagian tulang rusuk lelaki. Sosok dalam gambar berada dalam sebuah tempat yang sangat kecil, ia mengalami stagnan dan ragu ke luar dari penjara yang dibangunnya. Perlu keberanian ke luar dari sebuah atmosfer. Membangun galaksi baru menuju bumi yang lebih biru. Kegelisahan kerap menguji mental seseorang. Ia dapat menemukan sesuatu yang baru atau sebaliknya. Pertarungan dengan diri sendiri berarti perang antara tubuh, jiwa, dan ruh. Kenapa tulisan kanji dihadirkan? Ini persoalan jenis bahasa saja dari sebuah doa yang sama. Ia menuliskan dalam bentuk kanji karena ketertarikannya terhadap beragam hal yang berhubungan dengan negeri matahari terbit. Secara keseluruhan, ia menjelaskan bahwa ke luar dari gua diri demi menghindari hara kiri adalah alasan seseorang diberi kesempatan hidup. Berani memulai dari sebuah ruang sempit untuk memintal sumbu pikir yang pendek, lebih panjang.

alt
Saqna Berjuang (Ilustrator: Gebby Bagaskaras)

Saqna semacam sebuah nama yang berasal dari akronim Sakinah, diambil dari nama tengah seseorang yang istimewa. Karakter yang dibuat Gebby dari sosok nyata. Kelemahan seorang lelaki berdasarkan sejarah kerap dikalahkan oleh perempuan. Perjuangan seorang lelaki dalam mendapatkan sosok Hawa kerap memengaruhi jalan hidupnya. Terkadang, tidak sedikit peristiwa semacam ini, membuat seorang lelaki sakit jiwa. Berbeda cerita ketika Sulaiman as menaklukkan Ratu Bilqis, misalnya. Gambaran perjuangan menurut Gebby, seperti melewati fase gambar pertama. Ternyata untuk mendapatkan sesuatu yang terbaik mesti berdarah-darah, mengeluarkan seluruh energi dengan maksimal. Saqna berada di atas batu, tidak ke mana-mana, banyak yang melindungi. Banyak tangan sebagai gambaran perjuangan seorang lelaki yang belum tentu mendapatkan Saqnanya. Ia harus melewati sosok-sosok penjaga yang kemudian Saqna pun tidak dapat menyerahkan diri. Semua orang berusaha meraih tujuannya, ada yang berjuang juga tidak. Termasuk, ketika seorang lelaki mendapatkan kekasih sejati.

alt
Hilang Jiwa (Ilustrator: Gebby Bagaskaras)

Hilang Jiwa merupakan artwork yang dibuat untuk Hi Band. Gebby membuat ilustrasinya menuju penyelenggaraan Mata Rasa. Fantasi yang muncul saat itu, seorang wanita yang menyesal berada dalam layar. Ia main-main dalam sebuah hubungan yang tidak dapat dipertahankan. Seorang perempuan dengan tatapan hampa dan ratapan. Cairan yang meleleh pada tangannya adalah keadaan jiwa. Hubungan yang telah dijaga sejak lama, retak. Semacam gelas atau cermin yang jika pecah, ia tidak dapat direkatkan dan tidak semulus seperti rupa awal.

Ketiga ilustrasi karya Gebby Bagaskaras, sebenarnya menerjemahkan prolog Inggri Dewi Rahesi. Ia mengatakan bahwa karya yang dipamerkan dalam acara Mata Rasa tersebut telah dibuat jauh sebelum kata-kata aktivis literasi sekaligus Duta Perpustakaan Jabar itu tersuratkan. Berikut penggalan prolognya:

Menjadi Puan

….

Berilmu tidak untuk menginjak harga diri

Atau mengancam laki-laki

Tapi sebagai senjata untuk bisa mawas diri

Dan untuk siapa pun menjadi teman diskusi

….

Perempuan harus sigap dan peka

Menghargai dan memerdekakan jiwa

Isi kepalanya akan tumbur subur

mampu melakukan apa pun dengan makmur

 

Sebuah karya dengan pesan apa pun yang ditaruh si empukarya, bisa saja tidak tersampaikan secara visual. Akan tetapi, para penikmat karya seni rupa memiliki cara tersendiri mendapatkan makna.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.