Setiap kali saya membaca ulang literatur-literatur pendidikan yang masih sering digunakan di kelas-kelas calon guru, seringkali saya tersenyum sendiri. Buku-buku “babon” itu masih digunakan di zaman now, ketika mahasiswa lebih memilih untuk menikmati status-status media sosial, mengendap-endap ke kampus untuk berburu internet gratis dan menghabiskan waktu malam untuk nonton YouTube, atau mengamati infografis-infografis di Instagram. Bagi beberapa dosen senior, barangkali itu tidak jadi soal. Mahasiswa masih bisa mengumpulkan tugas, masuk kelas tepat waktu, melaksanakan praktikum di laboratorium, mengerjakan ujian dan kuis, dan selesai. Namun, ada banyak hal yang merisaukan saya. Selama kurang lebih tiga tahun terakhir, dalam diskusi-diskusi kelas dan di luar kelas, pengetahuan dan wawasan mereka tentang dunia seolah-olah berputar pada tema yang sama. Sementara itu, disadari atau tidak, arus perubahan sedang demikian deras dan menghantam kehidupan bertubi-tubi tanpa ampun. Di sisi lain, gaya hidup mereka dari waktu ke waktu berubah sangat tajam.

Pengalaman saya di atas menunjukkan bahwa ada ketimpangan dalam hal laju perubahan. Ketika gaya hidup sudah setaraf Galaxy S6 Edge, sementara dalam bidang ilmu pendidikan masih setaraf Galaxy Mini—atau mungkin Blackberry Curve (sorry to say). Sampai saat ini, masih ada saja kritik terhadap produk-produk canggih terbaru, dan sepertinya itulah yang membuat teknologi gawai ini semakin lama semakin canggih. Seperti kata pepatah yang sering dilontarkan para aktivis, kritik adalah anak kandung perubahan. Memang, kritik dan saran sering masuk dalam lalu-lintas sebuah lembaga pendidikan melalui mekanisme-mekanisme khusus. Meskipun pada akhirnya, kritik itu tidak terlalu berpengaruh pada kualitas mengajar para dosennya. Kalaupun ada, sulit sekali untuk membuat perubahan dalam rangka perbaikan kualitas mengajar.

Sempat saya mengikuti diskusi dengan rekan-rekan dosen tentang Quality Teaching. Pengantar dan sambutannya sangat memukau saya secara pribadi. Kuliah online, pemberdayaan laboratorium, flipped class, dan semacamnya membuat saya sangat termotivasi. Sempat muncul di benak saya berbagai gagasan yang bisa saya terapkan. Sayangnya, kemudian topiknya beralih pada format dokumen-dokumen dan arsip perkuliahan yang sejak zaman dulu masih saja dipersoalkan. Sama halnya dengan kejadian kurikulum baru diterapkan, lantas guru-guru menanyakan “Buku ajarnya mana?”, “Format RPP-nya seperti apa?”, dan sejenisnya. Pertanyaan yang seharusnya bisa diselesaikan di tiap satuan pendidikan masing-masing. Ternyata, dosen-dosennya juga sama saja. Dan pada akhirnya, administrasi seabreg itulah yang melelahkan saya secara mental. Jangan salah kira, saya bisa saja menyelesaikan administrasi itu sendiri, tanpa bantuan asisten pun. Lantas itu saya lelah untuk membaca dan berpikir mencari gagasan agar kualitas perkuliahan saya lebih baik.

Saya tahu ada beberapa dosen senior yang menggunakan sistem-sistem perkuliahan online, semacam Edmodo, Kelase, atau SPOT UPI. Saya sangat bangga dengan tipe dosen semacam ini. Karya musikal seorang rekan dosen saya pun bertebaran di YouTube dengan viewer mencapai lebih dari 500. Sementara untuk yang lainnya, biasa saja, tidak terlalu istimewa. Drama-drama klasik kuliah di dalam kelas itu akan terus berulang dari tahun ke tahun. Beberapa figur publik di media sosial sudah banyak membuat meme-meme tentang kuliah, dan kebanyakan sangat satire. Sayang, tipe dosen terakhir ini tidak bergeming sama sekali.

Sempat saya melakukan eksperimen kecil tentang sejauh apa keterampilan mahasiswa menggunakan media digital untuk tema-tema pendidikan. Hasilnya fantastis. Mereka bisa membuat berbagai video pembelajaran dengan kualitas terbaik dalam waktu singkat. Dan itu lebih membanggakan bagi saya. Belum tentu saya bisa menggunakan media digital sebaik dan secanggih mereka. Sebagai apresiasi, laboratorium yang saya pegang pun mendadak membuat channel di YouTube dan mengupload karya-karya mahasiswa. Sudah dua bulan berjalan, dan viewer-nya mencapai lebih dari 700 tayangan. Mungkin bagi beberapa orang itu kecil, tapi itu sangat bagus. Dan itu malah memancing kating (kakak tingkat) mereka untuk berkreasi lebih, kalaulah tidak disebut sebagai “kepanasan”.

Jujur, saya pun kepanasan. Apalagi ketika saya menyadari bahwa di banyak universitas di dalam dan luar negeri, kuliah-kuliah online sudah bertebaran. Dan, semuanya menarik. Memang bukan sembarang dosen berani memublikasikan ilmunya secara visual semacam itu kepada publik. Padahal, itu tidak lebih dari dosen sedang mengajar atau memberikan seminar, direkam dengan kamera video berkualitas tinggi, lalu diedit dan diupload. Selesai. Mudah sekali. Mahasiswa tinggal nonton ramai-ramai di kampus (jangan khawatirkan kuota data jebol, toh kampus punya wifi gratis), lalu masuk ke kelas, bertatap muka dengan dosen untuk bertanya lebih lanjut. Akhirnya, saya mungkin tidak perlu mengajar atau mengulang-ulang materi, dan bisa fokus pada perkembangan mahasiswa saya, satu per satu, orang per orang, pribadi per pribadi. Butuh praktikum, tinggal download lembar kerja, minta jadwal ke laboratorium, lakukan eksperimen sendiri, usai itu membuat laporan. Selesai. Mudah sekali.

Sepertinya benar, jika suatu saat di era modern, peran seorang dosen atau guru bisa diwakilkan dengan teknologi. Meskipun kemudian kehadirannya secara fisik masih dibutuhkan, dalam batas-batas tertentu saja. Rhenald Kasali pun pernah mengakui bahwa beliau lebih suka memberikan kata kunci kepada mahasiswanya untuk browsing, lalu beliau memimpin diskusi, bertanya lebih jauh tentang berbagai hal yang mereka temukan di internet.

Saya memang belum expert dalam melakukan perkuliahan digital semacam ini. Saya hendak berkata, bangunlah, lihat mahasiswa-mahasiswa lebih teliti. Ketimpangan perubahan yang saya sebutkan di awal, suatu saat akan menimbulkan kekacauan. Mahasiswa belajar ini, mahasiswa melakukan itu. Bisa saja mereka membanggakan ‘saya’ sebagai dosen yang baik, murah senyum, termasuk murah hati memberikan nilai, entah mereka memahami atau tidak apa yang kita ajarkan; tapi jelas itu semua hanya sebatas kebanggaan. Semacam heroisme yang menggelikan. Kita tidak bisa terus-terusan seperti Don Kisot yang hidup di zaman now. Saya tahu Anda semua sibuk, tapi jangan lupakan mereka. Kita semua sedang berada pada wabah paradoksal dan pragmatisme pendidikan tinggi. Saya pribadi tidak mau jika mereka menjadi lulusan yang biasa-biasa saja, apalagi seperti meme-meme satire itu. Anda pun demikian, bukan?

Dikirim Pidi Mohamad Setiadi: Seekor lalat di zaman es yang reinkarnasi menjadi manusia.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here