Melewati seseorang yang selalu menundukkan kepala pada buku dan layar laptop setelah beberapa malam sering nongkrong di Tangkal Kopi. Tidak ada satu pun yang berani bertanya, hingga penasaran pada sosok misterius yang sering berlangganan secangkir kopi espreso. Ia tidak pernah berinteraksi dengan pelanggan lain. Asyik dengan aktivitasnya sendiri tanpa menghiraukan lalu-lalang orang-orang. Suatu malam,  baru tergerak hati untuk bertanya pada sosok misterius itu. Begitulah ungkap Wak Nawy yang mengisahkan pertemuan berkesan dan memintal pertemanan pertama kali dengan sang penulis. Ia pun semakin akrab dengan sosok yang kemudian diketahui menggarap sebuah buku setebal 500 halaman lebih.

Setelah panjang lebar bertukar cerita berminggu-minggu, “Malah saya disuruh baca buku. Judul bukunya saya masih ingat, ‘The Alchemist – Sang Alkemis’ karya Paulo Coelho. Memang, saya pun memiliki tujuan untuk membaca buku itu, agar urat pikiran meregang, eaaa…” canda Nawy. Pendekatan sang penulis yang misterius itu memberikan sebuah buku untuk dibaca kepada pelanggan lainnya.

“Saya sendiri memperkenalkan beberapa komunitas, barangkali ada yang bisa dikolaborasikan. Seperti Lilgum R.I.M, Bogel Dirty Victory, Koko Galeri Jalanan, dan lainnya,” ia menambahkan. Jadi, pertemuan awal dengan Vudu, Ochim, dan Akbar,  terjadi di kedai Tangkal Kopi, “Ya, karena bercangkir-cangkir kopi,” lanjutnya.

Melihat pergerakan anak-anak muda yang berawal dari acara Sampurasun,  merasa terpanggil untuk terus memfasilitasi dan mengoordinir acara. Terlibat  secara keseluruhan pada acara Raamfest, mulai dari pertemuan pertama hingga akhir. Merasa terikat dengan sebuah gelombang yang saling tarik-menarik dalam rangka mengangkat harga diri tanah kelahiran melalui karya anak-anak mudanya. Nawy merasa puas dan bangga karena sebuah panggilan untuk mewujudkan mahakarya dari anak-anak muda Tasikmalaya. Menemukan pembelajaran yang tidak dialami di sekolahan, tetapi menggalinya di Sampurasun – Raamfest. Dijadikan ruang belajar yang membuat dirinya mendalami berbagai hal.  Mulai menyiapkan tempat kumpul di bekas gedung usaha keluarga, mengingatkan jadwal tim Behind the Scene, mempersiapkan peralatan, hingga mengangkut properti panggung dan pameran.

Sampurasun dan Raamfest adalah sebuah bangunan seperti rumah yang dapat disinggahi kapan saja baginya. Menemukan orang-orang hebat dan dapat menjadi bagian dari mereka hanya dengan menyumbangkan seluruh tenaga waktu dan pikirannya demi sebuah sejarah.

Di satu sisi dalam hal teknis, Sampurasun – Raamfest memiliki sayap dan nahkoda yang berupa kelangkang. Tidak ada satu pun yang mengenal dan menyadarinya, Iron Man yang berbaju besi itu adalah Wak Nawy. Ia berharap, acara dapat terlaksana lebih besar  dan gebyar hingga pecah ke seantero jagat raya. Ke depan juga diharapkannya dapat menyatukan konsep masa lalu, masa kini, dan masa depan. Pada wilayah gerakan, mempertahankan gerakan  dalam frekuensi yang sama. “Semoga pada tahun berikutnya dapat mandiri dan menyejahterakan serta menghidupi dari karya yang terlahir,” ungkap Nawy yang menyesapi secangkir kopi terakhir. (Jojo)

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.