Sebagaimana gravitasi yang ditemukan Isaac Newton dan menjadikan manusia dapat berjalan di atas bumi dengan daya tariknya. Begitu pula pikiran-pikiran manusia yang saling terhubung karena daya tariknya; entah dikatakan lintas ide atau satu frekuensi. Itulah yang membuat saya teringat pada sebuah film berjudul “Anna Karenina” yang diangkat dari novel karya Leo Tolstoy dengan judul sama. Salah seorang penulis besar Rusia dan hidup dalam rentang tahun 1828 – 1910 itu memiliki 14 anak. Sebuah gambaran yang mempresentasikan dirinya sebagai Levin. Kisah klasik tentang pergolakan atas nama cinta, hubungan dua manusia yang terkadang distorsi dan harmoni. Kisah kegamangan hidup yang ditulis seorang penulis besar dan menghadirkan kejutan tidak terduga.

Saya menemukan akulirik dengan nama-nama yang berakhiran “Ta” dari sepuluh judul kumpulan cerpen “Perempuan Berkepang Kenangan”. Mulai judul awal hingga akhir akan menemukan sosok: Tita, Zita, Cita, Sita, Yita, Fita, Lita, …, Wita, dan Hita. Pada judul kedelapan, akulirik tidak diberi identitas nama tokoh; aku, ya, aku. Saya hanya ingin memastikan bahwa kumpulan sepuluh cerpen ini adalah perjalanan yang peristiwanya dapat disaksikan melalui kaca mata seorang Sinta Ridwan.

Sinta merepresentasikan dirinya dengan tokoh-tokoh dalam kumpulan cerpen “Perempuan Berkepang Kenangan” sebagaimana Leo Tolstoy dengan Levinnya. Kesembilan tokoh yang berakhiran “Ta” itu dapat ditebak. Ya, ia adalah seorang Sinta Ridwan yang menuangkan bintang-bintang kehidupannya pada buku “Perempuan Berkepang Kenangan” dari secangkir perjalanannya. Artinya, saya hanya diajak jalan-jalan dalam buku tersebut dengan menggunakan atau dapat dikatakan meminjam kedua mata Sinta; perspektif. Kecuali, satu judul terakhir. Sinta Ridwan benar-benar menjadi orang ketiga dalam tokoh Hita yang satire; mati di negri asing dalam gejolak yang asing pula.

Dari kesepuluh judul cerpen Sinta, saya mulai terkesan pada judul “Kikisan Sungai Leiden”. Sita mengajak saya untuk mengingat sebuah kisah dalam film “The Lucy” yang diperankan Scarlett Johansson dan disutradarai Luc Besson. Sebuah film bernuansa filsafat tersebut mengetengahkan kekuatan kapasitas otak seorang Lucy yang dapat menembus ke dimensi masa lalu dan masa depan.

“Ah, baunya. Bau sejarah,” bisik Sita ketika membuka pintu perpustakaan KITLV yang ada di lantai bawah, (Hlm. 75). Sita tidak asing dengan naskah-naskah kuno yang berasal dari Jawa Barat dan Banten. Naskah kuno tersebut disusun Pleyte yang lahir di Leiden, 24 Juni 1863. Namanya sangat familiar di telinga Sita, “Hatur nuhun pisan, Sita!” tulis Pleyte di bawah tulisan (Hlm. 79). Tangan Sita benar-benar gemetar, tidak sekadar nama saja, tetapi sebuah kalung berbandul rubi merah pada leher Sita dalam foto pada naskah Pleyte pun persis dengan yang dimiliki Sita si akulirik. Sebuah peristiwa yang benar-benar menghubungkan dua dimensi berbeda. Ya, seperti persentuhan ujung jari Lucy yang diperankan Scarlett Johansson dengan seekor kera yang memiliki nama pertama Lucy – hidup  beribu-ribu tahun sebelumnya. Sebuah gelombang yang bernama frekuensi mengantarkan ruh seseorang yang lebih dahulu melakukan perjalanan jauh. Dejavu begitu ungkap orang-orang yang sering merasa pernah mengalami sebuah peristiwa yang sama.

Saya pun benar-benar menikmati cerpen terakhir, “Konser Kematian Katakomba”. Tokoh Hita tidak lagi identik dengan tokoh-tokoh lain yang sangat kental ihwal kesintaannya. Akhir kumpulan cerpen yang menegangkan pada labirin Katakomba dengan bergelimang mayat-mayat, tulang-belulang, dan bau amis darah. Tentara-tentara Jerman menggiring manusia untuk bertemu malaikat maut lebih cepat. Hita ialah seorang anak perempuan yang terjebak dalam gejolak Perancis ketika tentara Jerman datang mengobrak-abrik sadis. Terjebak dalam peristiwa keruntuhan sebuah negri asing lebih mengerikan.

Sang ayah berdarah Sunda dan berprofesi seorang pedagang tradisional yang menikahi perempuan Paris. Kok, bisa? Pertemuan sang ayah dengan perempuan Paris itu terjadi ketika dikirim Hindia Belanda. Ia menjadi salah seorang pemain sepakbola yang diikuti negri leluhur dalam piala dunia untuk pertama kalinya atas nama Nederlands-Indie. Setelah pertandingan berlangsung, ayah Hita terkena penyakit cacar dan dirawat di sebuah rumah sakit Paris. Juru rawat  dinikahi sang ayah setahun kemudian. Lahirlah Hita dua tahun kemudian.

Ayah Hita tidak kembali ke negrinya, ia menetap dan menjadi pedagang buah di pasar tradisional Paris. Sebelum teriakan, “Hidup, Hitler! Hidup, hidup, hidup!” menggema di seluruh lorong Katakomba, Hita ditelusuki peluru yang membakar tulang rusuknya. Sedang alunan violin dari seorang lelaki masih bergelombang hingga ia pun tumbang dekat tubuh kecil Hita. Sang ibu lebih dulu ke negri awan yang didahului sang ayah pergi ke bulan.

Bukan berarti cerita lain tidak menarik. Cerita pertama semacam membaca sebuah diary yang mengajak pembaca jalan-jalan di Raja Ampat. Saya mendapatkan kejutan di akhir ceritanya, yeyeye. Sedang pada judul kedua “Cerita Tanpa Judul” menemukan sosok Sinta yang respect pada budaya dan kemurnian hidup suku Kanekes. Mengalir pada cerita-cerita lain dan menemukan judul keempat dan terakhir yang menyatukan frekuensi pada endorsement seorang Hermawan Aksan, “Eksotis dan mendebarkan”. Sinta benar-benar mengakhiri cerita yang tidak membuat kecewa pembaca.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here