Kisah tentang energi anak-anak muda Tasikmalaya yang serupa matahari dengan spektrum cahayanya melebihi tujuh warna. Bahkan, mencapai dua belas warna. Bisa jadi lebih, jika perhitungan kapasitas otak-otak mereka bekerja hingga puluhan persen. Sebagai gambaran, tonton saja sebuah film berjudul “The Lucy” yang diperankan Scarlett Johansson dan disutradarai Luc Besson. Sebuah film bernuansa filsafat tersebut mengetengahkan kekuatan kapasitas otak seorang Lucy yang dapat menembus ke dimensi masa lalu dan masa depan.  Ia dapat mengubah dirinya sesuai kehendak yang dipikirkannya. Memang perlu dibuktikan secara ilmiah, tetapi film tersebut mengingatkan tentang sebuah power otak manusia hingga 100 %.

“Anak-anak muda melahirkan sejarah,” ucap Pramoedya Ananta Toer dalam novel “Larasati”. Namun, itu hanya kata-kata. Sedang anak-anak muda di tanah mutiara rindu dengan sebuah gerakan atas nama kebersamaan; nyata.

Anak-anak muda yang lahir dari gua garba mojang-mojang Priangan berusaha melahirkan sejarah baru. Setelah peluncuran video multiliterasi “Sampurasun” pada 17 Agustus 2017, yang merupakan benihnya disirami hingga tumbuh subur. Selama 120 hari sebuah buku “Kota Tujuh Stanza” karya Vudu Abdul Rahman terlahir, pada 16 Desember 2017. Dimoderatori Syswandi, seorang pegiat komunitas film, dibedah Iwok Abqary (Novelis), dan diulas oleh pembaca pertama, Lupy Agustina Dewi (Blogger).

Sebuah karya jawaban dari “Sampurasun” tersebut, terwujud atas kolaborasi komunitas-komunitas anak muda yang bernuansa kolosal. Penggarapan satu judul novel “Kota Tujuh Stanza” digubah 7 buah lirik lagu, diaransemen oleh 7 band dengan 7 genre musik yang berbeda. Dikemas dalam sebuah album kompilasi “Satu Frekuensi” yang melibatkan 7 Ilustrator dan 7 Fotografer.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here