Membaca buku harian digital seorang remaja. Isinya coretan. Hanya coretan. Ya, coretan kisah harian yang ditulis mulai pukul 23.43 WIB, hari Sabtu, 6 Januari 2018. Ia mencurahkan kegelisahannya yang unik dan mencerahkan. Sebab kalimat-kalimat yang diunggahnya lebih cenderung pada permenungan-permenungan yang berbeda dari usia remaja biasanya. Tidak sedikit para remaja yang mengunggah berbagai aktivitas hariannya yang kerap kurang bermakna. Berbeda dengan Ratu Indira Bhatari yang masih duduk di bangku kelas 10 ini lahir di Depok, 19 Oktober 2002. Remaja yang karya komik stripnya pernah diterbitkan bersama 9 anak lainnya oleh Slowork Publishing – Hongkong, 2016. Indi, nama panggilan akrabnya memang terlihat berbeda ketika masih duduk di kelas 4 sekolah dasar, 2012. Kini, ia mulai menuliskan coretan hariannya dengan kalimat-kalimat segar dalam akun instagramnya: @halaman.coretan dengan nama pena Bunglon Bening.

alt
Dokumentasi Ratu Indira Bhatari

Halaman Awal. Ini halaman pertamaku. Pertama kalinya aku menulis di sini. Pertama kalinya juga bagiku untuk mencoba menulis buku harian dalam sebuah media digital. Ini memang era digital. Ku akui, aku sudah jarang menulis buku harian. Aku terlalu banyak memakai gadget. Orang-orang bertanya, “Kapan terakhir kalinya kau mencoba sesuatu yang baru?” Detik ini aku menjawab, “Sekarang.”. (Minggu, 7 Januari 2018. Pukul 00.19 WIB).

alt
Dokumentasi Ratu Indira Bhatari

Langitnya sungguh cerah, ya? Sampai-sampai, aku tak dapat melihat bintang dan rembulan. Ini terlalu cerah, malam yang cerah tak selamanya indah. Aku lupa sejak kapan aku tak melihat mereka. Lebih tepatnya, aku ingin mereka menemani malam ku. Konyolnya aku, membeli puluhan bungkus bintang dan rembulan yang dapat bersinar dalam gelap. Aku membelinya sejak aku tak dapat melihatnya. Kapan? Entahlah. Aku senang melihatnya. Walau itu semua palsu.

Aku senang mengajak temanku berimajinasi. Tidur di bawah mereka yang tinggal di langit malam. Tidak. Aku hanya mengajak diriku sendiri. Ku tak peduli kalau mereka tak suka imajinasiku. Yang ku inginkan adalah ribuan butir cahaya yang dulu ku lihat dalam heningnya malam. Kapan kau akan membawaku ke sana? (Minggu, 7 Januari 2018. Pukul 20.43 WIB).

 

alt
Dokumentasi Ratu Indira Bhatari

Bahkan terkadang, cahaya membutuhkan kegelapan. Aku penasaran. Kenapa semakin terang tempat kita berdiri, semakin pekat bayangan kita?Aku telah menanyakan ini pada diriku sendiri bertahun-tahun lamanya. Aku tetap bingung. Apa yang akan terjadi jika tiada bayangan?Kenapa bayangan tak berwarna cerah? Apa rasanya menjadi bayangan?Itu sebagian tanyaku. Tentu aku tak tahu rasanya menjadi bayangan.

Aku tak ingin menjadi bayangan yang tak menjadi peran utama. Yang selalu terinjak. Yang tak punya emosi. Tapi jika ku harus, itu kau. “Ku suka menjadi bayangan. Yang selalu menemani mu. Yang selalu mengiringi perjalanan mu. Yang selalu mendukung setiap langkah mu,” ucapku kepadanya. Tapi akankah aku merasakan kebebasan dan tak selamanya terikat? (Senin, 8 Januari 2018. 00.00 WIB).

 

alt
Dokumentasi Ratu Indira Bhatari

Bodohnya aku tak menyadari bahwa alam sedang berbicara kepadaku. Ini isi pikirkanku saat itu. Saat aku pulang sekolah beberapa hari lalu. Saat itu, aku pulang dengan berjalan kaki. Jaraknya memang tak jauh. Jaraknya juga tak sedekat itu. Aku hanya senang melakukannya. Aku pikir, itu adalah cara agar aku tak terlalu cepat pulang ke rumah.

Aku melewati sawah, “Sawahnya semakin terlihat ujungnya.” Lalu aku berfikir, ‘apa yang harus aku tulis di halaman ku ini?’ Saat itu juga, Angin bertiup sangat kencang. Langkah kaki ku melambat. Aku serius. Angin itu seolah ingin membuatku terbang.

Aku melihat ke arah padi yang baru saja ditanam—entah sejak kapan—itu. Angin yang terus bertiup membuat padi itu seolah menunjuk rerumputan di kejauhan. Rerumputan itu menunjuk sebuah pohon besar. Aku tersadar dari lamunanku. “Oh, ini bahan tulisanku!” (Rabu, 10 Januari 2018. Pukul 18.00 WIB).

 

alt
Dokumentasi Ratu Indira Bhatari

Aku merasakannya. Namun, ini tak terasa sakit. Aku mendengarnya. Suara jantung ku. Aku takut seisi ruangan mendengarnya. Jantung ku berdetak sangat kencang. Lebih dari biasanya. Bukan lagi 60-100 denyut per menit (BPM). Aku pikir ini lebih keras. Apakah kalian berfikir bahwa aku baik-baik saja? (Kamis, 11 Januari 2018. 22.45 WIB).

alt
Dokumentasi Ratu Indira Bhatari

Aku yakin kau pasti bisa bangkit setelah jatuh ke dasar jurang. Namun, apa kau bisa kembali naik ke atas sana? Kau baru saja terjatuh. Ke dalam kegelapan. Jurang tanpa cahaya. Satu-satunya cahaya hanya ada di atas sana. Kau pasti bisa bangkit setelah kau jatuh. Tapi aku tak yakin akan satu hal. Apa kau bisa naik lagi ke atas sana? Kau jatuh terlalu dalam. Di sini terlalu gelap. Kau tak ada alat apapun untuk ke atas sana. Kau tak bisa terbang. Kau tak cukup kuat untuk ke atas sana. Kau lemah. Kita lemah. Di sini hanya ada kita. Dirimu. Dan aku. Bayangan mu. Seharusnya kau tak jatuh ke sini, aku tak bisa menemanimu lagi. Di sini terlalu gelap. Kau takkan bisa melihatku. Kini kau sendiri. “Seharusnya kau tidak terjatuh. Tidak, jangan sampai terjatuh lagi.” Mampukah aku ke atas sana? Ataukah aku yang takkan sendirian di sini? (Sabtu, 13 Januari 2018. 22.31 WIB).

Langkah tepat Indi memanfaatkan media sosial melalui gawai yang digenggamnya dapat menjadi contoh produktivitas kekaryaan untuk remaja-remaja seusianya. Lanjutkan!

Penulis: Vudu Abdul Rahman.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here