Alunan Daniel Caesar bersahutan dengan nyanyian para insekta dan bising kendaraan. Tanpa secangkir teh lemon hangat dengan segenggam daun mint segar, aroma kopi Aceh yang diseduh bersama V60, atau segelas susu full cream yang dibeli dari warung sebelah−tak jauh dari minimarket megah dan ramai. Hanya terpisah jarak oleh beberapa rumah. Sesekali desing mesin pesawat yang melintas di angkasa bergabung mesra. Buku- buku berjejer jauh dari kata rapi. Sampai suatu hal menyapa,

“Buku apa yang sedang kamu baca?”

Kalimat ini menjadi salah satu pertanyaan favorit saya pada siapa pun. Meski kadang sering bingung jika yang saya tanyakan berbalik arah. Mendengar orang-orang bercerita tentang buku kesukaan dan mengapa mereka menyukai buku tersebut sekilas seperti bertanya tentang lagu atau musisi favoritnya. Atau barangkali Netflix series, drama korea, sinema televisi Indonesia dan film layar lebar yang bertengger sekian lama dengan sekian juta penonton di bioskop saat kencan pertama.

Tapi, sebenarnya lebih dari itu.

Mari sejenak berkunjung ke masa-masa bermain kelereng atau layang-layang di sore yang beratap langit sebiru permen mint yang mengkilap. Pulang dengan bulir-bulir keringat hasil eksresi setelah seharian berpanas-panasan. Rambut lepek yang tak lagi legam lengkap dengan bau matahari. Lalu, bacaan apa yang terlintas dan menjadi lahapan saat itu? Si Kuncung, Andaka, Bobo, Ino, Ina, atau potongan-potongan kertas koran bekas yang dipakai sebagai bungkus gorengan?

Semakin tumbuh dan bertambahnya usia, buku atau bacaan yang dibaca semakin beragam. Ketertarikan pada beberapa jenis bacaan pun tidak bisa dipisahkan. Akan tetapi, tidak berarti bacaan jenis A lebih tinggi dengan bacaan jenis B. Misal, buku dengan genre fiksi lebih bagus dari genre non-fiksi. Bahkan banyak sekali sub-sub genre dari kedua jenis buku tersebut. Karena, setiap penulis dan bukunya punya tempat di hati para pembacanya masing-masing.

Dari buku-buku dan bacaan yang dilahap semasa hidup seseorang, saya yakin sedikit banyak akan memengaruhi pola pikir dan cara pandang orang tersebut terhadap suatu hal. Fokus pada satu genre atau bacaan favorit tidak masalah, karena setiap kepala memiliki selera yang berbeda. Pun, bisa saja menjadikan orang tersebut expert di bidangnya. Di samping itu, semakin banyak dan beragam bacaan yang dibaca, semakin menarik pula isi dari kepala mereka. Sadar atau tidak, akan ada nilai-nilai tertentu yang tak kasat mata yang didapat. Tapi tidak juga mereka yang tidak meluangkan waktunya untuk membaca tidak menarik atau kita sepelekan, karena belajar atau menikmati hidup tidak hanya melalui buku. Ada banyak hal lain di dunia yang bisa dieksplorasi, membaca hanyalah salah satunya.

Menikmati beragam buku dan bacaan seperti bertemu dengan banyak orang. Bedanya, saat membaca kita mencoba menyelami isi kepala seorang penulis lalu berusaha memahami apa yang ingin mereka sampaikan lebih dalam media ribuan bahkan jutaan kata-kata saat bertemu dengan seseorang, kita berusaha memahami dari sikap, gesture, dan lain-lain. Meski memahami buku dan seseorang kadang sama-sama rumit. Bagaimanapun, bukankah akan lebih menyenangkan, jika kita bisa melihat dan memahami segala sesuatu dari berbagai sisi dan perspektif?

If you only read the books that everyone else is reading, you can only think what everyone else is thinking” – Haruki Murakami

2 COMMENTS

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.