“Aku nggak dapet tiket kereta,” ujar seorang teman beberapa hari lalu. Mau tidak mau, plan B tetap berjalan. Alternatif transportasi lain selain pulang berkereta, mau tidak mau harus dia pilih. Rupanya, semua tiket jurusan Pasar Senen – Tasikmalaya sudah jauh-jauh hari habis terjual. Tentu sebab kereta api menjadi pilihan transportasi yang nyaman, cepat dan antimacet. Siapa pula yang menyukai terjebak di antara hiruk pikuk kendaraan saat matahari sedang panas-panasnya. Apalagi, mudik menuju Hari Raya selalu terkenal dengan kemacetan berpuluh-puluh kilometer meski melalui jalan bebas hambatan sekalipun. Belum lagi saat harus menahan dahaga dan lapar di tengah perjalanan. Diri semakin ditempa untuk berusaha menahan emosi dan melatih kesabaran dengan lebih. Seberapa jauh pun jarak, tetap ditempuh menjelang akhir Ramadan. Dengan tujuan yang sama, pergi beriringan. Pulang ke kampung halaman.

Sebagai tradisi yang sudah melekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia selama bertahun-tahun lamanya, mudik bukan sekadar pulang kampung. Bukan sekadar pulang ke rumah orang tua atau sanak saudara. Ada yang menyempatkan untuk mudik setiap tahunnya, setiap beberapa tahun sekali, bahkan mungkin melebihi Bang Toyib setelah tiga puasa dan tiga lebaran yang tak kunjung datang. Setidaknya, kali ini mereka –siapapun itu benar- benar pulang dengan berusaha meninggalkan kekhawatirannya di perantauan meski hanya sejenak.

Orang-orang yang memiliki kesempatan untuk mudik ke kampung halaman adalah salah seorang yang beruntung. Tidak sedikit dari mereka yang harus merayakan Hari Raya jauh dari tanah kelahirannya. Entah itu karena harus melaksanakan kewajiban terkait pekerjaan. Atau barangkali sedang menuntut ilmu di negeri orang. Entah apapun itu, dengan berbagai kondisi yang tidak memungkinkan bahkan memungkinkan sekali dengan adanya berbagai pilihan. Barangkali, di antara pilihan-pilihan tersebut jatuh pada pilihan untuk tidak mudik. Bukankah dalam hidup, selalu ada yang harus dikorbankan, baik waktu, tenaga, keinginan, dan berbagai hal lain dalam pilihan-pilihan yang tampak?

Apa yang lebih menyenangkan dari berkumpul bersama keluarga besar saat hari Raya? Apa yang lebih membahagiakan dari menyicip makanan rumahan atau khas kampung halaman yang jarang dijumpai di tanah rantau? Apa yang lebih mengasyikan dari nostalgia saat bercengkrama bersama teman-teman dekat meski hanya sekejap? Apa yang lebih menentramkan saat pulang ke rumah setelah memupuk rindu hingga menggunung dengan segala isinya? Terlepas dari derita generasi 90-an yang harus tahan dengan pertanyaan ‘Kapan?’ yang tak ada habisnya, mudik bisa me-recharge kembali diri yang telah lama jauh berjalan.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.