“Saya tidak tahu dari mana, ada di mana, saya tidak mengerti kenapa bertuhan menjadi tegang,” gelegar Sujiwo Tejo memecah hening, “Bertuhan adalah kegembiraan,” lanjut sosok kharismatik yang kerap muncul di acara-acara televisi itu, mengutip puisi sahabatnya, Acep Zam-zam Noor. Musik dengan melodi-melodi jawa terus mengalun, muda-mudi terbawa suasana yang mengaduk-ngaduk rasa.

Sosok bertopi koboi dengan kaos berwarna merah produk Katarasik dan sarung Parang Jancuk, akhirnya membuka bagiannya. Bertawasul dengan fasih semacam kyai-kyai. Ia disambut riuh tepuk tangan muda-mudi Maiyah, mengganti rinai hujan yang mengetuk-ngetuk aspal, sawah, dan atap-atap genting rumah. Iringan musik alam tersebut menyambut acara “Ngaji Bareng – Manggih Bungah Kupanggih” dalam rangka hari lahir Maiyah Lingkar Daulat Malaya Tasikmalaya yang kedua, (Sabtu, 26/5/2018). Meski hujan mengguyur Tasikmalaya sejak bada magrib, tidak menyurutkan niat anak-anak muda untuk hadir mengkhidmati petuah jancuk dari salah seorang sosok nyentrik yang bersarung itu.

Saya yakin bahwa para pemuda-pemudi yang hadir dalam acara ini, salah satu niatnya menyimak Presiden Jancuker Sudjiwo Tejo. Selain tentu saja sekaligus mengkhatami pembicara-pembicara lain: Acep Zam-zam Noor, Syaikh M. Nursamad Kamba, dan Tri Wahyu Budi S.

“Yang menjadi kebahagiaan orang Sunda itu ada tiga; pertama udud (rokok), kedua kopi, dan ketiga Persib. Kalau orang Sunda tidak suka ketiga hal ini maka patut dipertanyakan kesundaannya,” ucap Acep Zam-zam Noor memantik tema.

Syaikh M. Nursamad Kamba menautkan pernyataan penyair kelahiran Tasikmalaya itu bahwa beragama yang benar, berarti membawa kebahagiaan, kesejahteraan, ketentraman, dan lain sebagainya. “Akhir-akhir ini, beragama terlampau tegang,” tegasnya. Sedang ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW, yaitu menuju kebahagiaan yang hakiki. Persoalan menjadi rumit ketika orang-orang yang membuat sejarah kerap membawa kepentingan politik.

Sang Nabi SAW, tauladan umat manusia sepanjang masa, selama 13 tahun membawa risalah dengan berbagai rintangan dalam periode Mekah. Diperolok, dihina-dina, diludahi, tetapi tidak lantas membalas dendam dengan emosional. Sebab Muhammad SAW paham bahwa misinya akan sampai. Lalu, kenapa kemudian umatnya mudah dan cepat tersinggung? Nabi Muhammad SAW merupakan seorang pejuang yang gigih sekaligus memiliki kelapangdadaan.

“Jangan sekadar menauladani poligami, tok!” tandas Syaikhu. Akal sehat dan nurani merupakan fondasi yang dibangun Nabi Muhammad SAW dalam beragama. Agama bukan sekadar identitas, tetapi perwujudan bahasa laku setiap individu yang berarti akhlak. Sesuatu yang bernilai dalam agama bukan keterpaksaan, tetapi sukarela.

Perbuatan keji dimulai dari pikiran, sedang ibadah efektif berpengaruh baik pada kualitas akhlak. Seseorang mesti pandai mengolah kebenaran di dalam diri yang melahirkan kebaikan. Islam merupakan output yang menjadi kebenaran-kebenaran. Islam adalah akhlak. Misal, beribadah puasa itu untuk mengendalikan diri, bukan memanjakan diri. Bagi orang puasa di tengah godaan, itulah perjuangan. Meminjam istilah Sujiwo Tejo yang mengatakan bahwa ia berharap pada Ramadan tahun ini tak ada lagi iklan suplemen atau obat, dan lain-lain. Yang ber-mindset bahwa puasa itu masalah sehingga perlu suplemen atau obat, karena puasa itu menyehatkan. “Mari berhati-hati dengan teror yang lebih sejati: TEROR MINDSET,” kata Sujiwo.

Syaikhu Kamba menambahkan bahwa bahagia hadir di dalam rumah jiwa seseorang yang dapat mencium aroma surga di dunia. Artinya, seseorang tersebut tidak menanam kebencian di halaman hati dan pikirannya. Jika sebaliknya, ketika seseorang menyirami kebencian hingga tumbuh subur di halaman jiwanya itu, berarti ia tengah mencium aroma neraka.

“Di atas hukum ada akhlak dan di atas akhlak ada cinta,” Deni, sang moderator menanggapi ceramah Syaikhu Kamba, “Apa pun dapat dijadikan media untuk membuka pintu cahaya,” lanjutnya.

“Bahwa menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu dapat berencana menikah dengan siapa, tapi tak bisa rencanakan cintamu untuk siapa. Bahwa yang membekas dari lilin bukan lelehannya, melainkan wajahmu sebelum gelap,” kalimat sakti Sujiwo disambut riuh tepuk tangan muda-mudi. Jika orang-orang menikah setelah mengetahui kelebihan-kelebihannya, justru Semar menikah setelah mengetahui kekurangan-kekurangan pasangannya. Muda-mudi milenial semakin riuh dengan rapsodi sang dalang.

Beragama dan beribadah tanpa memperlihatkan urat leher membiru bagi Sujiwo Tejo adalah mengenal ‘aku’. Ceramah-ceramah sering memberi tahu ‘siapa aku’. Ia kemudian mengutip pernyataan Acep Zam-zam Noor, “Puisi mengubah kata-kata dari informasi menjadi bagian pengalaman.”

Ia menegaskan bahwa setiap ‘aku’ berlapis-lapis, “Ketika kamu diputus cinta, itu adalah permukaan, tapi ada aku di baliknya yang tidak merasakan sakitnya diputus cinta.”

Seluruh jamaah yang hadir diajak melanggamkan puisi penyair KH Hasan Mustofa:

Ceuk aing Allah mah batur
Ceuk batur Allah mah aing
Ceuk aing Allah mah eta
Ceuk eta Allah mah aing
Ceuk aing Allah mah saha
Ceuk saha Allah mah aing

Gelombang musik membuka pintu cakrawala lain; ada yang berjalan pada sebuah labirin, ada yang kelimpungan pada sebuah tujuan, ada yang linglung, ada yang memanggil-manggil Tuhan. “Aku datang memenuhi panggilanmu. Labaikallohumma labaik ….”

Sujiwo melanjutkan 99 asmaul husna, nama-nama baik yang dimiliki Allah SWT dalam kidung jawa. Dilatari paduan suara, musik gamelan, suara adzan, serta deklamasi puisi “Amanat Galunggung” yang dibacakan sang empunya puisi, Acep Zam-zam Noor. Suasana semakin teduh dan khusyuk. Melodi-melodi jawa mempertebal atmosfer suasana lembab di dalam ruang Pendopo Lama – Alun-alun Kota Tasikmalaya. Asmaul husna yang digubah dalam lagu dengan unsur musik jawa menggetarkan instrumen-instrumen musik di dalam tubuh para jamaah. Detak jantung, aliran darah, peristiwa dukacita, sukacita, galau, dan lain sebangsanya menyatu dalam sebuah doa.

“Yang keseratus, sebut namamu sendiri,” pungkas Sujiwo Tejo dengan nada tenornya pada bagian lagu fade out.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.