Menghela napas sejenak setelah berpikir keras dalam menyelesaikan sebuah garapan novel “Kota Tujuh Stanza”. Detik-detik batas akhir waktu penerbitan, pikiran terasa buntu, dan mood seolah-olah kabur dari dalam rumah pikiran. Pencerahan sang musafir setelah pulang bertualang dari belantara kata-kata ketika bertemu dengan sang guru yang memberi petunjuk jalan ke luar. Menyimak petuah-petuah yang tidak terpikirkan bagi saya yang belum melewati landai, lembah, bukit, dan pucuk gunung sebuah mahakarya. Siapa yang tidak bangga, ketika naskah disunting oleh seorang penulis produktif?

Iwok Abqary, seorang penulis berdarah Tasikmalaya dengan berbagai karya bukunya yang laris bersama penerbitan ternama. Beberapa buku yang telah diterbitkan di antaranya: Tengok saja Suster Nengok (Examedia, 2008), Gokil Dad (Gradien Mediatama, 2009), TIKIL (Gagas Media, 2008), Ganteng is Dumb (Gramedia Pustaka Utama, 2009), dan Gokil School Musical (Gradien Mediatama, 2010). Laguna, sebuah novel finalis lomba novel amore. Novel King ditulis berdasarkan spirit dari Liem Swie King, pejuang bulutangkis Indonesia, menjadi sebuah novel adaptasi. Hingga baru-baru ini ditantang membuat skenario film animasi Knight Chris. Novel paling terakhir merupakan semacam pengakuan dirinya sebagai penggemar cilok sejati.

“Sampe ujungnya kepikiran buat nulis novel tersendiri bertemakan cilok,” kata ayah dua putri ini yang dikutip dari instagramnya.  Sebuah novel pembangkit tawa, “Pengabdi Cilok” yang berkolaborasi dengan Irvan Aqila yang tersedia di toko buku Gramedia. Waktu luang seorang penulis produktif sangat sempit.

Tidak sederhana untuk mendaulatnya sebagai editor. Saya memaksanya untuk menjadi editor karena darah Tasikmalaya mengalir deras di dalam sungai tubuhnya. Di sela-sela deadline skenario untuk film animasi Knight Chris, ia menyempatkan waktu. Hingga pada suatu senja yang tidak disaksikan matahari, ia memangkas waktu kerja di kantornya. Demi sebuah rumah yang masih berwujud kelangkang. Dengan ruh yang dapat disentuh pada daun pintu. Jabang bayi buku berjudul “Kota Tujuh Stanza” pun menemukan celah-celah untuk memberi jalan pada cahaya.

“Hanya satu kata yang menyatukan saya dengan Kang Vudu, yaitu Tasikmalaya,” akunya dalam bedah buku “Kota Tujuh Stanza”, (16 Desember 2017).

Kini, rumah kelangkang itu kemudian berwujud jalan terbuka pada lalu-lintas di dalam  tempurung kepala. Saya sekali lagi menaruh harapan pada siklus Sampurasun – raamfest.id (http://raamfest.com) atas nama Tasikmalaya. Itulah alasan kenapa masih rela meremas otak demi sebuah bentuk yang mendekati sempurna; sederhana. Karena sering dilupakan bahwa kesederhanaan sangat mahal akhir-akhir ini.

alt
Dokumentasi Pribadi

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here