Tiba-tiba, kata-kata mati suri, seperti tidak berarti, meski ditelaah dari dua sisi. Baik dan buruk. Entah bagaimana lagi mengatakan persoalan tentang peristiwa tadi pagi (Minggu, 13/5/2018). Ketika kabar baik dari sebuah desa sebelah utara, dibalas kabar buruk dari selatan jawa. Bagaimana tidak, kabar-kabar media sosial berseliweran tentang sebuah keluarga yang salah alamat beribadat ke tempat ibadah di luar keyakinannya. Ternyata, mereka mendefinisikan kemanusiaan sangat keji dengan mengatasnamakan agama dan Tuhan dengan meledakkan diri. Sebuah keluarga memilih hara-kiri secara berjamaah, meskipun di tempat berbeda yang tentu saja telah terencana.

Saya lebih terkejut ketika peristiwa tersebut berdampak ke mana-mana, entah ketentraman antarwarga yang beragam atau persatuan dan kesatuan. Padahal, hampir seabad yang lalu diperjuangkan mati-matian oleh para pahlawan yang kini dihadiahi generasinya karut-marut.

Termasuk, seorang kawan yang meski tidak terlalu dekat, tetapi sering berpapasan di sebuah kedai kopi. Pertemuan pada saat jarum jam menunjukkan hampir sore itu, ia menyapa, “Hai, Kang Vudu!”

Saya terperanjat, sebab sepanjang lalu-lalang pertemuan dalam sehari-hari, ia biasa berhijab. Saat itu, ia menunjukkan perangai dan tampilan berbeda. Menggunakan celana pendek seksi dan raut muka yang sendu. Saya pikir ia mendapatkan masalah, entah dengan keluarga atau seorang kekasihnya. Saya bertanya-tanya, meski ingin bicara dengannya, tetapi tidak sepatutnya memaksa. Saya memilih tidur di sofa kedai kopi itu karena sepanjang malam hari tidur sangat pendek. Selain, saya mengisi sebuah acara yang bertemakan gagasan Ki Hajar Dewantara. Atmosfer dalam acara sangat terjaga. Meskipun luapan emosi meledak-ledak di antara pemateri dan audiensi.

Kembali pada permasalahan perempuan tadi, saya kemudian terlelap beberapa jam. Memang, hari-hari biasanya saya sering tidur di kedai kopi jika lelah. Setelah itu, saya membaca buku sebelum menuliskan sesuatu. Saya teringat kedua kawan yang tengah menyelesaikan editan video kegiatan pagi hari bersama anak-anak inspiratif di luar kedai. Sebelum saya ke pojok luar kedai kopi, langkah terhenti. Perempuan itu duduk sendirian di balik ruang yang dibatasi jeruji.  Saya memberanikan diri bertanya, “Kenapa?”

Rupanya ia menanggapi pertanyaanku sangat cepat. Ternyata, masalahnya tidak terduga. Ia memilih melucuti hijab yang biasa digunakan sehari-hari karena sebuah kekecewaan. Peristiwa peledakan bom ketiga gereja di Surabaya adalah penyebabnya. Ia tidak habis pikir dengan pelaku pemboman yang menargetkan orang-orang tidak berdosa yang sedang beribadat. Ia tidak habis pikir dengan sebuah paham tanpa mempertimbangkan nilai-nilai manusiawi. Rela menghabisi saudara sebangsa yang berbeda keyakinan-keimanan tanpa sesal.

Sosok perempuan ini memiliki pengalaman sekolah katolik selama sepuluh tahun. Meski ia menjadi minoritas, tetapi merasa dihargai dengan toleransi sangat tinggi. Ia tidak rela dengan orang-orang yang beribadat di gereja terkena imbas dari pemahaman yang berbeda. Menurutnya tidak masuk akal, ada orang-orang yang sedemikian kejam meledakkan diri di bumi pertiwi. Semacam memperkeruh suasana tahun perebutan kekuasaan yang kenyataannya mendominasi hari-hari. Pengaruh peristiwa terhadap jiwa seseorang sangat mungkin terjadi. Saya teringat guncangan jiwa seorang Nidah Kirani. Perempuan yang seluruh tubuhnya tertutup rapat, kemudian menjadi penghianat Tuhan. Sebuah novel “Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur” diangkat dari kisah nyata yang ditulis Muhidin M. Dahlan. Sosok Nidah Kirani ini seperti hadir di hadapan saya. Menemukannya dalam kehidupan nyata, meskipun ia masih setia kepada Tuhan. Memang, hijab dilucutinya karena sebuah peristiwa yang menjadi bencana kemanusiaan di depan wajah ramadan. Sangat disayangkan!

Saat peristiwa terjadi di pagi hari, berita-berita di televisi dan media sosial sangat gencar dan cepat. Tidak berhenti hingga 24 jam yang kemudian disambung peristiwa ledakan berikutnya di Polresta Surabaya. Di antara pemberitaan kasus peledakan gereja dan Polresta Kota Surabaya, acara-acara pencarian bakat dangdut di televisi tetap berdendang. Diriuhkan perdebatan warganet di media sosial perihal peristiwa yang seolah-olah lebih tahu ketimbang pakarnya. Debat cagub dan cawagub di Tanah Legenda pun tetap berjalan yang berakhir ricuh itu. Seolah-olah peristiwa genting berlalu tiada berarti. Padahal, akan berpengaruh besar dalam kehidupan bermasyarakat ke depan.

Empati semacam barang langka di negeri Pertiwi akhir-akhir ini. Sikap beberapa pihak yang berkabung hanya sesaat. Perenggutan nyawa dengan cara biadab rupanya tidak mengurungkan niat untuk meneruskan acara-acara hiburan. Pertanyaannya, di mana rasa kemanusiaan?

Hingga H-2 bulan ramadan yang telah di depan mata, perasaan saya semacam hampa. Sebab seharusnya, bulan yang ditunggu-tunggu muslim seluruh dunia ini disambut dengan tentram dan sukacita. Sekali lagi, bencana kemanusiaan dan alam terjadi karena ulah manusia sendiri. Semoga ramadan menelusuk ke dalam hati semua orang agar suasana benar-benar terjaga dan menjunjung tinggi rasa kemanusiaan.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here