Sekitar tahun 90-an sampai awal 2000-an, internet belum merasuki desaku. Cibeber masih dipenuhi pepohonan tinggi yang kalau pagi-pagi diselimuti halimun. Uang kertas lima ratus rupiah masih gambar monyet dan uang dua puluh lima perak laku buat jajan bala-bala.

Tak banyak rumah yang berantena, televisi masih menduduki posisi sebagai barang mewah. Sebelum mengaji, ibu-ibu tidak selfie. Mereka belum tahu android dan fesbuk. Muda-mudi masih menyukai masjid dan sajadah sebagai tempat berdoa. Orang-orang punya banyak persediaan sabar sebab perkara menunggu kabar lewat secarik surat atau telegram sungguh memakan waktu.

Desaku dulu amat syahdu. Ia menyediakan cicit burung, aroma rumput, dan carik cahaya yang malu-malu terbit di antara dedaun sebagai sarapan pagi. Bukan, bukan gosip murahan atau berita-berita ketakutan yang membuat sarapan pagi penuh dusta.

Sebagai seseorang yang lahir dan tumbuh di tempat ini, aku telah menyaksikan betapa aku juga desaku tak lagi sama. Kami terus tumbuh dan bergerak. Kami berubah: mengubah, dan diubah. Akan tetapi, kenangan tentang masa kecil yang seru dan ceria tidak mampu diubah oleh waktu. Waktu hanya membuatnya lalu mengantarkannya padaku untuk kemudian kuceritakan kepadamu.

Kisah Lupy kecil barangkali tak jauh berbeda dengan anak-anak di desa ini pada umumnya. Jauh sebelum orang-orang terpenjara di dalam cell-phone, kami mengalami masa kecil yang bagimu mungkin primitif. Kami doyan makan micin terutama atom bulan dan aida di dalam cimol yang harganya masih seratus rupiah perbungkus. Tak lupa minuman legendaris berwarna oranye dan merah ceria namanya sitrun. Mantap!

Lupy si anak desa beserta kawan-kawannya senang sekali kumpul bocah. Waktu itu, halaman rumah Teh Uli menjadi markas kami. Setiap sore, kalau sudah mandi dan cantik, kami berkumpul di sana. Agendanya macam-macam, diutamakan yaitu ulin-ulinan yang seru.

Permainan yang menjadi favorit kami adalah ucing sumput dalam berbagai versi. Satu yang paling kuingat, namanya “babancakan”. Babancakan ini bukanlah ucing sumput biasa. Ia merupakan versi ucing sumput yang cukup kompleks. Begini, tatacaranya:
1. Lakukanlah hompimpah untuk menentukan siapa yang jadi ucing.
2. Bermainlah kalau sudah ada yang ucing!

Jangan salah kira, meski babancakan cuma permainan anak-anak kampung, dia punya banyak filosofi. Dalam babancakan, kami menggunakan pecahan genting yang ditumpuk menjadi tujuh lapis. Hal ini tentu saja merujuk pada asas reduce. Genting-genting yang telah pecah tak kami abaikan. Kami mengolah dan menggukannya sebagai bahan permainan yang seru.

Genting yang telah disusun itu kemudian harus dilempar agar roboh. Si pelempar adalah dia yang bukan ucing. Si Ucing, sendirian mengamati sambil berdoa supaya lemparan itu gagal hingga ketiga kali, lalu ia tidak ucing lagi.

Dibutuhkan keterampilan yang luar biasa bagus agar lemparan bisa merobohkan genting-genting itu sampai lantak. Ketepatan dalam mengukur jarak dan kecepatan harus kami latih pada babancakan ini. Belum lagi, detik-detik menunggu hasil lemparan sungguh memacu adrenalin kesabaran. Tabik!

Jika susunan genting itu sudah roboh, permainan pun dimulai. Di sini kami benar-benar harus memaksimalkan segala potensi dan keterampilan. Genting yang roboh merupakan pertanda agar kami menyesuaikan kecepatan langkah kaki dengan kecepatan berpikir. Saat Si Ucing sedang sibuk menyusun genting seperti sedia kala, kami kocar-kacir mencari tempat sembunyi.

Proses bersembunyi membutuhkan kecerdasan yang bukan main-main. Kami harus cerdik mencari lahan paling aman biar tak menggantikan si ucing. Kalau pun jadi Ucing, kami harus pandai bertaktik. Perlu radar yang bagus buat mendeteksi tempat mana yang dijadikan persembunyian. Selain itu, mesti juga pandai-pandai menjaga daerah kekuasaan, sebab kalau tumpukan genting itu roboh, lalu teman kami bilang, “BANCAK!” kami akan kekal menjadi Ucing!

Permainan babancakan menimbulkan euforia yang semarak di sore hari. Ibu-ibu yang sedang nongkrong di teras rumah, kadang kala membantu si Ucing menemukan teman-temannya yang sedang bersembunyi. Gelak tawa tidak lepas dari kami kala kami lomba lari berebut untuk saling bancak karena tak mau ucing menggantikan si Ucing. Bedak yang telah ditaburkan di wajah berganti keringat, tapi kami pantang lelah. Babancakan hanya akan berhenti jika langit telah beranjak jingga dengan gurat-gurat berwarna merah muda. Kami semua berlari pulang ke rumah karena takut Sandekala.

Waktu Itu, desa kami dan seisinya adalah tempat yang menyenangkan untuk kami bermain. Sawah, ladang, lapang, bukit, dan kali, seolah disediakan Tuhan untuk kami nikmati seluas-luasnya. Kami tak merasa miskin meski bermain tanpa alas kaki. Kami tak merasa primitif meski belum pernah pegang handphone. Bagi kami kala itu, genting-genting, bebatu, dedaun, tanah dan air masih jadi teman yang asyik.

Saat ini, desaku sudah berubah. Aku juga telah terlalu tua untuk bermain babancakan. Adikku sesekali saja main ucing sumput. Anak-anak SD seusianya lebih senang menghabiskan waktu di depan PS sambil berteriak, “Anjing! Aing eleh”.

Kupikir, kelak babancakan hanya akan jadi legenda seperti kaulinan lain yang juga telah dilindas zaman. Handphone dan televisi telah menjelma kotak ajaib yang mengalihkan dunia anak-anak di desaku.

Euforia babancakan pada sore hari telah lama memudar. Petang seumpama halaman kosong yang disoraki sepi. Di beranda rumah, di warung-warung hanya tampak kepala-kepala yang tertunduk pada penjara segenggam tangan. Telah banyak bocah-bocah desaku yang lupa, bahwa bumi dan manusia bisa membantu mereka menjadi manusia.

Image cr: rjsyahrullah.blogspot.com

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.