Lewotana merupakan konsep kosmos atau jagat yang berarti bakti kepada tanah tumpah darah. Sebab gelekat lewo gewayang tana bermakna demikian, memancar dari sorot mata, gerik, dan gelagat aktif seorang gadis mungil, berambut keriting, dan hitam-manis dari Indonesia Timur: Flores. Ia lincah semacam gerak tanah ditempa gempa. Perkenalkan saudara setanah, seair, dan seudara nusantara; Magdalena Oa Eda Tukan.

Kemauan bergelegar dari dalam dadanya yang membawa ia bertemu dengan orang-orang besar. Begitulah ia mengartikan wilayah Adonara sebagai suatu tempat bertemunya Nuba Rera Wulan (Tuhan yang empunya langit) dan Nara Tana Ekan (Ibu yang memilliki bumi) dalam wujud kehidupan sebuah Lewo (kampung). Wujud kebersatuan Nuba Rera Wulan dan Nara Tana Ekan tampak dalam suatu wujud “Nubanara”. Bagi orang Adonara, adanya Nubanara adalah adanya kampung. Nubanara adalah kampung halaman yang harus dibaktikan dengan karya “gelekat lewo, gewayan tana”, pengabdian untuk kemaslahatan banyak orang demi kemajuan Lewotana.[1]

Dorongan larva yang meledak-ledak dari bawah sadarnya, memancurkan harapan baru dari timur. Barangkali, ia Mesiah dirinya sendiri, keluarga, tetangga atau bahkan lingkungan terkecilnya. Ia membawa ruh leluhur yang telah dilupakan bangsa ini; gemohing. Akhir-akhir ini, gotong-royong sangat asing dalam realita. Memilih bergerak dengan kelompok-kelompok kecil. Andai kata diibaratkan sebuah sampan, gelombang akan mudah menjungkirbalikkan badan. Selama perjalanan tidak akan merasa tentram. Persis perjuangan gadis kecil yang memiliki bara berapi-api demi gerakan literasi yang masih merasa sendiri.

Magdalena berharap anak-anak Flores Timur memiliki cara pandang berbeda terhadap jalan masa depan. Ia berusaha menyiapkan energi agar generasi masa depan Lamaholot terdorong untuk berkembang dan memberi pengaruh baik terhadap dunia luar. Bumi yang luas ini mesti dijelajahi sebelum mengkhatami planet-planet yang belum tentu dapat dijadikan pijakan lain untuk hidup dan menghidupi.

Hubungan masyarakat antaragama, bagi orang-orang Lamaholot mengutamakan ikatan geneologis, ikatan suku dan lewo, ikatan adat, budaya, dan perkawinan. Mereka tidak menyoalkan perbedaan agama, bahkan saling menghargai; toleransi sangat baik. Solidaritas merupakan salah satu keutamaan orang Lamaholot, tampak dalam gotong royong dalam istilah gemohing. Mereka juga senang menerima tamu dengan suguhan terbaik. Selalu berusaha untuk menjaga nama baik Lewotana, bahkan berusaha mengangkat nama Lewotana, Soga Naran Lewotana.

Menurut anak gadis ini, tidak banyak anak muda yang mampu berpikir kreatif, merdeka dan terbuka. Tidak banyak juga yang bersedia tumbuh untuk sebuah perubahan. Pada kenyataannya, banyak anak muda yang kuliah lalu pulang kampung dan menjadi PNS.

Kelompok kecil seperti taman bacaan masyarakat yang dibangunnya, diharapkan dapat membentuk karakter anak-anak untuk mampu berinovasi di masa depan. Berkarya! Oleh sebab itu, ia menggebu-gebu bertarung dengan keadaan yang kerap kurang bersahabat dan menekan.

Ia lahir dan tumbuh dari keluarga penggiat literasi, ayahnya adalah sosok yang paling berpengaruh dalam kehidupannya. Eda, panggilan akrabnya, dibesarkan dari tulisan-tulisan dan pemikiran sang ayah yang dipersembahkan untuk Flores Timur. Bernard Tukan ialah ayahnya yang banyak menulis tentang sosial budaya Flores Timur. Salah satu buku yang digemari Eda, yaitu Keluarga Larantuka.

Tidak sedikit anggapan kurang baik tentang taman bacaan masyarakat yang dibangun diri dan keluarganya, karena tidak membawa keuntungan secara finansial. Anak muda yang telah lulus kuliah pada tahun 2015 ini, disarankan kerja di kantor, menjadi tenaga kontrak daerah, daripada membangun taman bacaan. Akan tetapi, banyak juga yang melihat gerakan yang diperjuangkannya merupakan hal positif. Tantangan lain yang kerap dialaminya adalah kerja sama dengan orang tua. Anak-anak tertarik dan senang bergiat dengan taman bacaan, hanya saja dorongan orang tua masih kurang. Kondisi geografis juga menjadi kendala, banyak desa di pelosok yang belum bisa terjangkau. Koleksi buku untuk anak-anak dengan beragam tema menjadi kebutuhan yang mendesak

Buku yang berisi tentang kehidupan masyarakat Melayu – Larantuka yang ditulis ayahnya, merupakan buku favorit yang menginspirasinya. Meskipun banyak yang memandang sebelah mata dengan gerakan yang ia mulai dua tahun lalu, setelah menyelesaikan studinya di Pulau Jawa. Dukungan ayahnya adalah energi matahari yang tidak pernah habis –menjadi kekuatan terbesar Eda.

Berto Tukan dan Ona Tukan dua dari enam saudaranya tumbuh menjadi penulis.  Sedang Eda lebih fokus pada manajemen, dan belajar kajian sosial budaya pada ayahnya. Menulis adalah proses yang baru ditekuni sejak pulang ke rumah.

Eda-eda yang lain mesti tumbuh subur dari Indonesia Timur. Kelahiran generasi matahari adalah harapan paling dinanti bangsa ini. Semoga!

Daftar Pustaka:

  1. Adonara Memanggil, Lewotana Maranet, http://kupang.tribunnews.com/2014/09/30/adonara-memanggil-lewotana-maranet).

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.