Sebelum berdebat karena sebuah kata, sebaiknya membaca terlebih dahulu hingga halaman terakhir. Istilah pada judul memang sangat provokatif dalam suasana sara yang tengah diuji antaranak bangsa. Menurut saya sangat menarik, ketika keyakinan Hasan digoyahkan sebuah ideologi seorang teman. Atheis yang disangkutpautkan dengan ideologi kiri, jika dijadikan bahan informasi tentu sah-sah saja. Bukan berarti harus mengikuti suatu paham tertentu yang merugikan kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat.

Membaca itu perintah Tuhan yang semata-mata agar dapat menelaah kebenaran-kebenaran. Saya tertarik dengan buku ini karena membayangkan sebuah pergulatan batin dari kisah-kisah yang dialami tokoh-tokohnnya. Buku yang ditulis Achdiat K. Mihardja tersebut diterbitkan PT. Balai Pustaka setebal 250 halaman.

Pergulatan batin seorang Hasan yang dibesarkan dalam keluarga yang kuat secara tarekat, terguncang ketika bertemu Rusli, teman kecilnya yang berteman bebas dengan seorang perempuan bernama Kartini. Hasan yang terbiasa dengan ajaran agama melalui dogma dan dongeng-dongeng yang taat mengamalkan ajaran-ajaran warisan gurunya. Terdapat celah kelemahan Hasan yang tidak diperkuat argumentasi-argumentasi Al-Quran dan As-sunnah. Sehingga, ketika ia bertemu dengan Rusli yang memiliki pemikiran Nietzsche yang matrialisme dan rasional, mengubah wujud teman kecilnya itu sebagai badai dalam pikiran-pikirannya. Pernyataan Rusli yang membuat gendang keyakinan Hasan bertalu-talu. Salah satunya ketika mengatakan, “Kita harus pandai meneropong soal-soal hidup dengan pikiran yang bebas lepas, dengan pikiran dan penglihatan yang tak boleh dibikin kabur oleh fanatisme dan dogma.”

Selain itu, ketaatan Hasan melepuh ketika sebuah getaran meluluhlantakkan jiwa kelaki-lakiannya yang rapuh oleh pesona perempuan bernama Kartini. Sebab pemikiran-pemikiran liar, Hasan semakin dihantam badai pikirannya sendiri. Misal, ketika bertemu dengan Anwar yang mengatakan, “Tuhan itu aku sendiri.”

Belum Parta yang mengatakan, “Tekniklah Tuhan kita!” semakin membabi-buta saja badai ideologi yang merubuhkan rancang bangun pikiran Hasan. Pergaulan dengan teman-temannya benar-benar telah memengaruhi keyakinannya. Ia berada di antara langit dan bumi keyakinan, mengawang, serba tanggung dalam pertempuran theisme dan atheisme.

Soal asmara dengan Kartini yang dinikahi karena nafsu kelaki-lakiannya terpengaruh cinta buta yang justru semakin memperburuk keadaan. Sikap Kartini yang memiliki kebiasaan bebas pergi dengan laki-laki, membuat Hasan cemburu. Hingga suatu ketika, kartini pulang dengan Anwar, Hasan memukuli Kartini. Perempuan ‘bekas’ istri rentenir tua keturunan Arab itu, memutuskan pergi dengan Anwar dan menginap di hotel. Percikan-percikan kembang api cemburu membuat mata Hasan mengubah lensanya menjadi kobaran.

Apa pun cara pendidikan keluarga akan berpengaruh pada keteguhan seorang anak, meski dihadapkan pada kenyataan yang di luar dugaan. Keyakinan Hasan terguncang ketika dibenturkan dengan pemikiran dan pengalaman buruknya dalam pernikahan. Guncangan batin tersebut, membuat jiwanya berada pada dimensi antara, theisme dan atheisme. 

Ia pergi malam-malam mencari Kartini, tetapi gempuran serangan udara membuatnya luluh-lantak. Kaki kirinya tertembak, berguling-guling, dan kalimat terakhir yang diucapkannya, “Allahuakbar!”

Hasan memilih keyakinan yang diajarkan sejak dari rumah dan gurunya di akhir hayat. Ia tetap mengakui Allah SWT sebagai Tuhan, meskipun sempat dipreteli pemikiran Rusli, Anwar, Parta, dan Kartini.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here