Masa muda selalu berisi pergolakan dan pencarian. Beberapa kesalahan dibuat lalu disesali, sisanya beruntung menjadi petunjuk arah. Masa muda membuat kita rentan tersesat namun itu bukan hal buruk. Bukankah tersesat mengarahkan kita pada kemungkinan yang mengejutkan?

Bertemu lelaki yang mengarahkannya menjadi kiri dengan gemar membaca buku kiri juga tulisan seorang blogger kiri, mungkin menjadi kejutan yang menyenangkan bagi Wulan. Ia tersesat sampai benar-benar jatuh cinta kepada hal-hal yang berbau kiri dan tentu saja kepada lelaki itu. Jogjakarta menjadi saksi pergumulan cinta keduanya. Cinta yang mengantarkan Wulan pada sebuah penyesalan yang mendalam.

Wulan tak menyesal menyukai segala hal tentang kiri. Ia justru menyesal sebab telah menyerahkan hal yang berharga kepada lelaki yang ia puja pada suatu malam ketika mabuk. Peristiwa itu membuat Wulan yang ceria seperti kehilangan cahaya. Ia mengurung diri dan tak menemui siapa pun. Rentetan rasa bersalah menghantui dirinya. Ia takut ayahnya akan marah karena ia tak lagi mengaji dan bahkan melahap buku kiri yan bertentangan dengannya.

Ada dua hal yang menyebabkan seseorang berubah: Pikirannya telah terbuka atua hatinya telah terluka. Entah siapa yang mengatakan ini pertama kali, namun kukira keduanya menimpa Wulan dengan telak. Setelah semedi panjang yang membuat ibundanya menangis tiada henti, Wulan berteriak lantang,

“Akulah sang perawan sejati dari 106 km tenggara kota kembang,”—Atas Nama Wulan, Kota Tujuh Stanza

Wulan tetaplah rembulan. Awan tebal tak pernah bisa mematikannya. Ia tetap memiliki kekuatan magis untuk menyerap cahaya dari mana saja, dari siapa saja: tukang becak langganannya, tukang bubur favoritnya, dan tentu saja Gagas. Lelaki yang mempertemukannya pada cahaya baru: Konde Sartika.

Bersama perempuan-perempuan hebat macam Inggri, Wulan kembali menemukan dirinya. Ia sadar, waktunya belum habis. Ketersesatan di masa lalu telah membukakan cakrawala baru baginya. Luka yang nganga itu mulai sembuh perlahan. Wulan mulai menemukan lajur hidupnya, ia terus bergerak sebab tak ingin terjebak pada mesin waktu.

“Orang-orang sering mengurung diri di kamar masa lalu, sulit beranjak menuju realita. Terjebak pada mesin waktu…”–Atas Nama Wulan, Kota Tujuh Stanza

Keterpurukannya saat itu, membangkitkan Wulan dengan cahaya yang baru. Ia memberanikan diri untuk bersuara. Terang-terangan membaca buku kiri di rumahnya dengan risiko yang besar. Nyatanya, tidak ada yang terjadi. Orang tuanya tak pernah melarangnya. Barangkali ketakutan itu memang Cuma di dalam pikiran.

Sekali lagi, seseorang bisa berubah sebab pikirannya telah terbuka. Entah dengan kunci apa atau siapa. Hubungan Wulan yang kaku dengan ayahnya mulai menemukan titik terang, setelah sebuah kunci bernama “Miang” mengetuk jiwanya. Ia semakin mengerti, ayahnya bukan robot tanpa hati. Kekakuan itu tercipta karena selama ini ia belum cukup berusaha memberi sinar hangat pada dingin yang membekukan hati keduanya.

Kisah Wulan memberiku pelajaran baru. Seburuk apapun masa lalu seseorang, ia tetap memiliki masa depan yang suci. Tak peduli perbuatan hitam apa yang telah dilakukannya di masa lampau, selama ia tetap bergerak untuk berubah, hidup akan selalu memberikan waktu. Kesempatan kedua tidak bisa didapatkan dengan cuma-cuma, ia ada karena diciptakan. Ada harga yang mesti dibayar: dengan waktu, usaha, dan tentu saja rasa percaya.

alt
Ilustrator Adith Hiracahya

 

Dikirim Oleh Lupy Agustina Dewi

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here