Hadirin yang saya hormati,

Tulisan ini tidak akan mejadi esai yang serius. Jika ada kekurangan atau ketidakberkenanan, semua itu adalah hal-hal yang tidak disengaja, soalnya aku mau curhat.

“Bu, aku mah masuk ke sini pakai kerja keras. Yang lain malah ngumbar uang nyogok paling gede. Masa, mereka bangga-banggain masuk ke sini bayar sekian juta. Yang bayar paling gede kayak bangga banget,” curhat seorang siswa padaku tiga tahun silam.

Perkataannya masih kuingat betul, sebab perasaan yang menyertainya tidak dapat aku lupakan. Sebuah kekagetan yang menohok nurani, tatkala instansi pendidikan justru turut menjadi wadah perdagangan gengsi. Demi berada di sebuah sekolah ternama, jutaan rupiah adalah hal sepele.

Pendidikan di negeri ini semacam menjadi barang mewah. Ada stigma yang beredar, “Semakin mahal instansi pendidikan, semakin bergengsi nilainya.” Kok ini terdengar semacam menjual barang-barang di toko. Barangkali pendidikan kita memang semakin mirip dengan pasar. Diadakan untuk mencari laba.

Di kelas-kelas, persaingan menjadi menu utama. Hidangan tentang kemanusian hanya menu pilihan yang jarang disukai. Kita lebih senang berdebat untuk menang dari pada memahami pemikiran yang tidak sejalan. Angka-angka seolah menjadi dewa sehingga ujian hanyalah alat untuk menciptakan para penyontek ulung.

“Bu, nilai aku berapa? Bu, siapa yang nilainya paling besar?” pertanyaan yang berulang kudengar. Aku jadi mikir, mungkinkah siswa-siswa lebih malu mendapatkan nilai yang jelek dari pada menunjukkan sikap yang jelek? Sebegitu buaskah angka-angka telah memengaruhi mereka hingga harus menanggalkan nilai kejujuran?

Jika kau ingin iseng, mari ikut denganku mengawasi ujian sekolah. Lihat betapa kebanyakan dari mereka kehilangan kepercayaan diri jika tidak menyontek dan menyamakan jawaban. Gusti, aku sirik pada kid-kid itu, mereka kok masih bisa cengengesan sewaktu mengkhianati-Mu. Mungkin karena aku marahnya enggak serem, harusnya kupakai muka Sadako.

Aku tidak tahu apa yang menyebabkan sontek-menyontek begitu digandrungi oleh para siswa. Ini tentu tidak melulu salah mereka sebab anak-anak adalah hasil didikan lingkungan yang mereka tinggali. Barangkali aku sebagai guru memiliki andil juga untuk membuat rasa kemanusiaan mereka semakin mati. Sampai pada titik tertentu, bahkan mereka mampu berbuat lebih buruk dari pada itu.

Seorang guru honorer yang meninggal setelah dianiaya muridnya merupakan berita yang semakin membuat wajah pendidikan kita carut marut. Hal ini amat disayangkan oleh semua pihak. Berbagai kecaman datang kepada HI yang merupakan murid korban. Masyarakat menudingnya sebagai siswa yang tidak berperikemanusiaan. Kejadian ini menjadi semakin tragis mengingat bahwa almarhum adalah seorang guru honorer yang hanya bergaji 400 sebulan. Makin miris lagi bahwa aku pun bernasib sama tapi untungnya belum almarhum. Ehem, ngeri.

Baru-baru ini bahkan sebuah video pemukulan seorang murid SMK oleh gurunya menjadi perbincangan hangat. Sang Guru berdalih bahwa perbuatannya semata-mata untuk mengingatkan siswanya karena dia sudah keterlaluan. Aku merasa agak ‘anu’ tatkala menyaksikan Bapak Guru itu mengelus-elus lebih dulu pipi muridnya sebelum menamparnya dengan telak. Ini kok seperti diputuskan pas sedang sayang-sayangnya.

Apa yang salah sebenarnya? Mengapa siswa dan guru yang idealnya harus memiliki hubungan harmonis malah cenderung saling menekan dan menyakiti satu sama lain? Apakah karena salah pilih pasangan? Eh.

Siswa bukanlah budak yang dapat diperlakukan semena-mena. Seorang siswa harus menghargai guru bukan karena ia guru tetapi karena ia manusia. Guru bukanlah tuan. Ia tak berhak melakukan diskriminasi apapun terhadap siswa karena ia manusia. Kesadaran tentang posisi masing-masing sebagai manusia harus terus ditumbuhkan. Selama ini, para siswa hanya diajarkan menghormati guru karena ia guru. Secara tidak langsung, kita mengajarkan mereka untuk menghormati orang lain karena kedudukannya. Bukankah itu agak keliru?

Kejadian yang menimpa almarhum Ahmad Budi, harus menjadi cermin dalam memperbaiki kualitas hubungan antara guru dengan siswa. Ada sesuatu yang salah sehingga selain HI, ada banyak siswa lain yang juga memberontak dengan perilaku tidak terpuji.

Apa yang yang dilakukan oleh Aan Harahap kepada muridnya kiranya dapat dijadikan bahan renungan. Senantiasalah mengingatkan diri kita tentang bagaimana kita ingin diperlakukan oleh orang lain.

Kita mungkin sering lupa bahwa pendidikan bukan perihal siapa paling pintar, siapa paling jago, dan siapa paling berkuasa. Lebih jauh dari itu, seharusnya pendidikan mampu memanusiakan manusia. Menjadikan manusia lebih selow dan gak gampang emosi. Melesapkan keinginan berhuru-hara dan berdiskriminasi kepada sesama. Tak lupa juga untuk menumbuhkan rasa saling menghargai.

Jika kita masih terus beranggapan bahwa pendidikan hanyalah deret angka, maka bukan tak mungkin kejadian serupa akan kembali berulang. Kebiasaan menilai seseorang berdasarkan angka dalam akademik yang terlanjur mendarah daging membuat para siswa sibuk mengejar angka untuk mata pelajaran kemudian melupakan potensi dirinya sendiri. Segala cara dilakukan agar mereka mendapatkan nilai bagus supaya tidak mendapat predikat bodoh. Mereka seolah lupa, bahwa selain angka, etika akan lebih berguna untuk hidup mereka.

Seyogyanya, pendidikan menjadi sarana belajar yang asyik. Tempat yang membuat para siswa tidak takut untuk terlihat bodoh. Ruang yang lapang untuk salah, gagal, lalu mencoba lebih keras. Rumah yang nyaman untuk belajar menjadi manusia yang sesungguhnya.

Di balik semua carut marut itu, aku masih memiliki optimisme terhadap pendidikan di negeri ini. Aku yakin masih banyak orang yang peduli dan ingin terus memperbaiki diri. Mereka yang senantiasa menjaga kewarasan dengan tidak menjadikan pendidikan sebagai ajang cari duit. Mereka yang senantiasa bersikap sebagai manusia dengan tidak mengkerdilkan kecerdasan sebatas deret angka. Mereka yang selalu yakin bahwa pendidikan seyogyanya adalah tempat untuk mengasah kepekaan diri bukan sekadar ajang cari gengsi. Semoga aku tidak keliru.

Tulisan ini pernah dimuat di http://gunyam.com

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here